Posted by: femmy on: 2 September 2008
The title promises a tantalizing story. A time traveler? I love stories that involve time paradoxes! Time traveler’s wife? Even better! I’m always drawn to stories that takes a fantasy element and puts it in an everyday context, i.e. focusing on the ordinary rather than the extraordinary. This must be a story about how time travel affects the life of this couple. A quick look at the blurb shows that this is indeed the case.
And so we follow the love story between Clare and Henry. She first met him when she was six and he was thirty-six, already married to her future-self. He first met her when she was twenty, having spent her childhood with him, and he was twenty-eight, ignorant of her and their future. I like how at any given time one of them always knows more than the other, while the other is clueless about their history together. I especially like the parts when Henry is with young Clare, or with Alba. I feel that it is these parts that show the full effect of time travel on the relationship between the characters.
Unfortunately, the rest of the story is a bit bland, offering almost no internal conflicts between Clare and Henry, as if their only problem in this world is time travel. We see very little of how they fall in love, for example, only that their love is “meant to be”. And the fatalistic nature of the time paradox is rather depressing at times.
So, three stars from me. The novel has a great premise and some good parts, but on the whole it falls short in the execution.
Posted by: femmy on: 3 Mei 2008
Sudah lama aku ingin terjun kembali membaca cerita silat, merenangi lagi sungai-telaga, apa lagi setelah suami membawa koleksinya ke rumah. Tapi, aku merasa “wajib” menghabiskan dulu daftar dosaku yang panjang itu sebelum merambah ke sana, jadi keinginanku ini tak kunjung kulaksanakan.
Nah, akhir pekan lalu ada undangan dari Om Tjan ID (penerjemah tjersil) yang menikahkan anaknya di Semarang. Maka kami Ban-liong-siang-koay pun berangkat ke sana untuk turut merayakan kegembiraan, sambil tak lupa menggunakan kesempatan ini untuk berkumpul dengan kawan-kawan sesama penggemar tjersil, utamanya di Integrita, kantor penerbit Patja Satya. Melihat semua buku yang berjajar di rak, rasanya ingin sekali membaca semuanya sekaligus. Suami menawarkan membeli beberapa, tetapi teringat tumpukan buku belum dibaca di rumah, aku menolak. Namun, ternyata Om Tjan memberikan buku terjemahannya yang terbaru sebagai cendera mata khusus bagi anggota MTjersil. Jadi, kami tidak pulang dengan tangan hampa.

Senyuman Dewa Pedang (劍神一笑 – Kiam-sian-it-siauw) karya Khu Lung adalah buku kesepuluh dalam seri Liok Siau-hong. Dulu aku pernah nonton serial televisinya, tetapi ceritanya sudah lupa semua, dan entah apakah buku ini dimasukkan ke serialnya.
Dalam jilid ini, Liok Siau-hong menyelidiki hilangnya sahabatnya Liu Ji-kong, dan datang ke sebuah desa sepi yang terpencil bernama Ui-sik, tempat “bunga tak harum, burung tak berkicau, ayam tak berkeliaran, anjing tak berlarian dan kelinci pun tak bisa buang air.” Warga desa itu juga aneh-aneh. Misteri pembunuhan yang lumayan bikin penasaran. Dalam cerita ini juga kita bertemu kembali dengan si Kuah Daging, Sukong Ti-sing, Lausit Hwesio, dan Sebun Jui-soat.
Yah… lumayan sebagai buku tjersil pertama yang kubaca setelah sekian lama. Hanya 228 halaman, ringan dan kadang lucu. Lanjut ke buku berikutnyaaa….
Posted by: femmy on: 25 April 2008
This book teaches you to trust your instinct. If you suddenly feel fear in a situation, it is probably because your instinct is telling you that there’s danger nearby, so you’d better act fast to avoid it.
But you shouldn’t confuse true fear and worry. If each time you walk in a dark alley, you’re scared that there might be thugs laying in wait, that’s actually worry. Worry is what you feel about what *might* happen, without any reason whatsoever. True fear is what you feel when there is actually danger to you.
Just in case you haven’t learned how to listen to your instinct, the book also gives you some danger signs to look out for when you meet a stranger, as well as some strategies to deal with dangerous or troublesome people. It is also sprinkled with many anecdotes to illustrate these situations, but most of them feel so alien to me. I don’t see how stories about celebrity stalkers and blackmailers have any kind of relevance to my life.
But, as a whole, this book is useful and informative, but I hope I’ll never be in a situation where I’ll need to apply the information I learned from this book.
Posted by: femmy on: 19 April 2008
Ini cerita silat kedua yang kubaca tahun 2008. Aku ingin membaca semua karya Chin Yung yang belum pernah kubaca atau kutonton, dan kebetulan buku inilah yang pertama kutemukan di rak koleksi tjersil suamiku.
Soh Sim Kiam (Pedang Hati Suci, diterjemahkan Gan KL dari 連城訣) berkisah tentang Tik Hun, seorang pemuda desa yang hidup tenang bersama gurunya, Jik Tiang-hoat, dan putri gurunya, Jik Hong. Pada awal cerita mereka diundang untuk menghadiri perayaan ulang tahun kakak seperguruan Jik Tiang-hoat, dan di sanalah semua permasalahan dimulai.
Novel ini tidak terlalu panjang, hanya 11 jilid dengan total 532 halaman, dan karenanya tidak banyak petualangan yang dialami Tik Hun. Hanya ada dua konflik besar di dalam cerita ini yang, tidak seperti plot rumit dalam trilogi Chin Yung, nyaris tidak berhubungan satu sama lain, setiap konflik punya tokoh jahat dan tokoh wanitanya masing-masing. Hampir terasa seperti membaca dua cerita. Aneh.
Soh-sim-kiam
Konflik pertama terkait dengan judul buku ini, nama sebuah ilmu pedang yang diperebutkan oleh Jik Tiang-hoat dan kedua saudara seperguruannya. Ilmu ini unik karena nama-nama jurusnya didasarkan pada baris-baris puisi. Sayangnya, aku tak tahu apa-apa tentang puisi Cina. Andaikan tahu, tentunya lebih bisa menikmati. Di antara semua puisi yang disebut, hanya satu yang kukenal karena di milis tjersil pernah dibicarakan, termasuk oleh suami.
夜思.(李白)
床前明月光
疑是地上霜
舉頭望明月
低頭思故鄉
Rindu d’Hening Malam (Li Bai)
Cahaya rembulan depan pagar perigi
Sudahkah embun beku, menutupi bumi
Dongakkan kepala, rupanya terang bulan
Waktu menunduk, terkenang kampung halaman
Selain ilmu pedang, ternyata Soh-sim-kiam juga menyimpan suatu rahasia lain, sehingga orang lain di dunia persilatan turut mengincar kitab silat tersebut, beserta kunci teorinya.
Hiat-to-bun
Konflik kedua adalah keterlibatan Tik Hun dengan Hiat-to-bun (Perkumpulan Golok Berdarah) yang jahat, yang menimbulkan kesalahpahaman sehingga para pesilat menyangkanya orang jahat juga.
Aku membaca bagian ini dengan dua perasaan bercampur. Pertama, sebal karena situasinya sedemikian rupa sehingga Tik Hun tak mampu berbuat apa-apa untuk menyangkal tuduhan ataupun meluruskan kesalahpahaman. Kedua, sedikit kagum karena aku teringat pada cersil karangan sendiri yang memiliki konflik serupa (tokoh utamanya disangka jahat), tetapi kesalahpahaman kubuat tidak sehebat yang disusun Chin Yung, hehe.
Kesan
Secara keseluruhan, buku ini lumayan juga, ada bagian yang hambar, tetapi ada juga bagian yang menarik..
Dari sisi ilmu silat, agak menyebalkan bahwa selama setengah cerita ilmu Tik Hun tidak berkembang, bahkan sampai harus menuruti orang jahat untuk bertahan hidup. Saat dia sudah lebih lihai pun, ilmunya tidak terlalu dimanfaatkan dengan seru, huh-huh.
Dari sisi cerita, dalam paruh novel pertama, satu-satunya bagian yang kusuka hanyalah cerita Ting Tian tentang kisah cintanya dengan Leng Siocia. Sangat menyentuh bahwa pada bulan-bulan pertama mereka hanya berinteraksi melalui bunga yang ditaruh Leng Siocia di balkon.
Di tengah-tengah cerita, di jurang bersalju saat tinggal empat orang yang tersisa (Tik Hun, Hiat-to Lo-co, Hoa Tiat-kan, dan Cui Sing) dan tidak bisa ditebak bagaimana keadaan akan bergulir, barulah cerita terasa seru, dan terus berlanjut sampai akhir buku, yang membuatku terjaga sampai jam dua malam untuk menamatkannya.
Posted by: femmy on: 19 Februari 2008
Do you know that old fantasy cliché, where the protagonist is a farm boy with hidden abilities, who is destined to defeat the great villain and save the whole world from destruction? Well, in this series Brandon Sanderson has taken that cliché and given it an imaginative twist, which results in this fantastic first installment of the Mistborn trilogy.
(But take my advice. If you ever decide to buy this book, do not read the blurb! Reading it will be more exciting if you don’t know what the twist is, with an added element of mystery about an unidentified writer of a diary that is excerpted in the beginning of each chapter.)
The story itself is set in a kingdom where ash falls instead of rain, the mist rules the night, and the Lord Ruler and the nobility enslave the skaa. It is in the skaa slums that our story really begins, as a thieving crew concocts a grand plan to steal the expensive, magical metal called atium from the palace of the Lord Ruler himself. Yup, unlike adventure or political intrigue stories that usually permeate the fantasy genre, this book has the feel of a heist movie. Think Ocean’s Eleven meets The Lord of the Rings. It’s very refreshing, and I enjoy reading as the crew execute their plans and troubleshoot as unexpected plot twists throw them some tricky problems.
At the heart of the thieving crew are Vin, a girl with an abusive past, and Kelsier, the mastermind who leads this crew. They are both Mistborns, people who can practice Allomancy, a way to manipulate metals to do magic. I just love it when an author takes time to create a unique magic system that has logical and consistent rules. It results in magical battles that are quite fun to read.
As an added bonus, there’s romance in the air!
So, this book has everything that I look for in a fantasy book. A unique world, a fresh twist on the genre, great plot, interesting characters, a cool magic system, and a little bit of romance. Can’t wait until the second book comes out in paperback!
Posted by: femmy on: 30 Desember 2007
Sepertinya asyik juga kalau bacaan setahun lalu dilihat-lihat lagi dan sedikit dikomentari, seperti yang dilakukan The Gypsy Librarian (kebetulan kutemukan saat mencari info tentang sebuah buku. Sebagai penggemar data-mendata, tentu saja aku tak sabar menunggu tibanya tahun baru supaya bisa mendata bacaanku!).
Nah, mari kita mulai dengan angka:
Lumayan juga ya, ada peningkatan. Semangat membacaku memang bertambah akhir-akhir ini. Mendapat suami yang hobi membaca, aku jadi terkenang masa-masa ketika aku juga tak pernah lepas dari buku ke mana pun aku pergi, maka aku bertekad meraih kembali masa itu. Selain itu, situs goodreads juga menambah semangat, terutama dalam upaya mengikis gunung buku yang telah kutimbun beberapa tahun terakhir. Baca entri selengkapnya »
Posted by: femmy on: 26 Desember 2007
Buku ini adalah buku kedua yang kuterjemahkan untuk redaksi fiksi Gramedia (yang pertama adalah Stardust). Mulanya aku agak ragu menerima tugas ini, karena sepertinya bahasanya agak “nyastra” dan saat itu (April 2006) aku belum pernah menerjemahkan novel serius selain To Kill A Mockingbird. Tapi pikirku, masa baru order kedua sudah tawar-tawar? Jadi, kuterima juga tugas ini.
Ternyata, menerjemahkan buku ini sangat menyenangkan. Memang agak menantang karena beberapa kalimatnya puitis, tapi mencari padanan kata yang pas juga terasa mengasyikkan. Mudah-mudahan saja hasilnya juga cukup bagus dan bisa dinikmati pembaca.
Tantangan lain adalah kata berbahasa daerah yang bertaburan, yang mengharuskan aku banyak melakukan riset di internet. Sebenarnya, semua kata ini telah diselipkan secara piawai sehingga bisa dikira-kira maknanya dari konteks dan tak memerlukan catatan kaki. Namun, sebagai penerjemah, tentu saja aku tak boleh hanya mengandalkan tebak-tebakan, harus tahu persis makna setiap kata. Riset ini pun menjadi kenikmatan tersendiri, karena memungkinkan aku menjelajah sebentar ke Bombay dan mengintip kebudayaan Parsi. Pada akhir pengerjaan, semua kata ini kurangkum dalam tabel dan kukirimkan ke penulisnya, yang dengan sangat baik hati memeriksanya dan mengoreksinya.
Selain hal teknis di atas, ceritanya juga bagus! Buku ini berkisah tentang dua perempuan yang terpisah jarak status sosial. Bhima adalah pembantu di rumah Sera, dan konflik besarnya adalah cucu Bhima yang hamil di luar nikah, dan upaya mereka berdua untuk membantu gadis itu menghadapi masalah ini. Namun, di sela-sela cerita masa kini, banyak juga kisah sendu masa lalu kedua perempuan tersebut, terutama tentang hubungan mereka dengan suami dan keluarga masing-masing.
Hubungan majikan-pembantu yang tergambar di sini mungkin tampak aneh dan agak kejam bagi masyarakat Barat, tapi sepertinya beberapa aspeknya juga muncul di masyarakat kita. (Jadi ingat Nagabonar Jadi 2, adegan ketika Nagabonar mengajak kedua pembantu anaknya makan bersama-sama, dan kelihatan mereka berdua tampak sangat canggung.)
Kesimpulannya, ini buku bagus! Kisah yang menyentuh, dan kadang membuatku merenung. Ayo baca, bacaaa…
Berikut sedikit cuplikan dari buku tersebut:
Baca entri selengkapnya »
Posted by: femmy on: 23 Desember 2007
Inilah daftar seri fantasi yang sudah selesai kubaca. Selain daftar ini, aku juga membuat daftar seri yang belum tamat (baik belum tamat ditulis si pengarang maupun belum tamat kubaca).
Posted by: femmy on: 23 Desember 2007
Daftar ini kubuat untuk melacak seri fantasi apa saja yang kuikuti perkembangannya. Aku sering lupa sih, karena pertama, buku dalam satu seri tentunya tidak terbit sekaligus, dan kedua, aku biasanya membeli buku pertama dulu untuk menilai apakah aku perlu membaca lanjutannya, tetapi kemudian setelah beberapa waktu berlalu, aku malah lupa melanjutkan. Apa lagi, setiap ada seri baru, selalu ada godaan untuk membeli, meskipun aku belum selesai membaca seri yang sudah lebih dulu diikuti.
Mudah-mudahan, dengan adanya daftar ini, pola pembelian buku fantasiku bisa lebih terstruktur.
Seri yang menunggu lanjutannya terbit
Seri yang ingin dibeli lanjutannya
Seri yang sedang dibaca
Seri yang saat ini belum ingin dilanjutkan
Posted by: femmy on: 15 November 2007
My husband’s friend lent him this book. It was the translated version, but I’ve heard about the book for a long time, so I thought I might as well read it. The translation was good, but reading all the favorite quotations posted on Goodreads makes me wish I read the original.
The first part tells about Pi’s early life in India, as a son of a zoo keeper. It was very charming, with Pi’s experience with Hindu, Islam and Christianity, and his examination of each. I just love the comical scene at the beach where he met his three religious teachers and they argue about why their religion is the best and why Pi can only choose one.
The second part is basically a survival story, where the ship carrying Pi’s family and the zoo animals to Canada sank, and Pi was the only person who survived and had to live on a lifeboat with several animals, including a Bengal tiger. It goes into gory details about the animals fighting, killing and feeding on each other, as well as tiresome description of building the raft or catching fish, which sometimes makes laborious reading. I must admit, though, that the author has a good imagination (and has done a lot of research, it seems) to be able to describe all of that. But among these long unexciting passages, there are some funny bits that keeps me reading.
The last part was very, very funny, with a little plot twist that explains everything.
It’s horrifying what the kid had to go through, and I often found myself wondering whether I would fare half as well if I were in the same situation.
All in all, I think this is an interesting, funny book. I just wish that there were more of the religious-philosophical contemplation like in the first part.
Komentar terbaru