Rak Buku Femmy

Setelah absen tiga tahun, pada tahun 2012 ini aku ingin melanjutkan kegiatan merangkum bacaan setahun karena ada beberapa hal yang ingin kucatat.

The Book Depository

Pertama, jumlah buku yang kubaca tahun ini 62 judul–kenaikan drastis setelah selama lima tahun sebelumnya hampir selalu hanya 30-an judul. Kenaikan ini berkaitan langsung dengan perkenalanku pada awal tahun 2012 dengan toko buku online The Book Depository yang menggratiskan ongkos kirim.

Gratis ongkos kirim! Selama ini aku jarang memesan buku dari Amazon karena ongkos kirimnya mahal, hampir setara dengan harga bukunya sendiri. Namun, sejak mengenal The Book Depository, aku bisa lebih leluasa berbelanja buku. Biasanya aku memesan satu per minggu, supaya buku itu bisa selesai kubaca sebelum yang berikutnya datang.

Ternyata, membaca buku yang memang sedang ingin dibaca–bukan sekadar menghabiskan utang bacaan yang menumpuk–sangat meningkatkan kecepatan membaca. Sejak menyadari hal ini, aku memutuskan tidak akan lagi memborong buku, yang hanya akan menumpuk utang bacaan dan menambah beban pikiran. Lebih baik membeli satu per satu dan menikmati setiap buku itu.

Nonfiksi ilmu pengetahuan

Sebenarnya semasa kecil aku senang membaca buku tentang ilmu pengetahuan. Bahkan, menurut ibuku, aku membaca buku pelajaran IPA dari depan sampai belakang seperti buku cerita. Tetapi, setelah berkenalan dengan novel, tampaknya minat bacaku beralih. Meski ketertarikanku pada ilmu pengetahuan tetap ada (sehingga memilih A1 di SMA dan jurusan Teknik Kimia semasa kuliah), aku tak pernah lagi membaca buku dengan tema ini.

Nah, akhir-akhir ini aku sering menemani suami menonton saluran televisi dokumenter. Program tentang ilmu pengetahuan, misalnya Chemistry dan Atom, membangkitkan kembali minatku pada tema ini. Jadi, pada awal tahun ini aku membaca Time’s Pendulum yang sudah lama terlupakan di rak buku, dan ternyata aku masih menikmati nonfiksi seperti ini.

Aku pun mulai mencari-cari buku apa lagi yang kira-kira menarik. Namun, karena nonfiksi biasanya lebih mahal daripada novel, aku harus lebih berhati-hati mencermati tema dan gaya bertutur si penulis, agar tidak salah pilih buku.

Fiksi vs. nonfiksi

Meskipun aku semakin tertarik pada nonfiksi, ternyata secara keseluruhan aku masih lebih banyak membaca fiksi. Nonfiksi yang kubaca hanya 11 judul (18%), sementara 51 judul lainnya (82%) adalah fiksi. Mudah-mudahan tahun depan jumlah nonfiksi bisa lebih banyak.

Untuk fiksi, aku masih sering membaca buku dalam genre favoritku, fantasi, sebanyak 19 judul. Tetapi, kini aku sudah merasa nyaman juga membaca di luar genre ini, membaca 14 judul genre umum, 12 judul fiksi islami (FLP), 4 novel horor, dan 2 cerita silat.

Penulis Indonesia vs. asing

Jumlah buku karya lokal yang kubaca tahun ini sebanyak 21 judul (34%). Lumayan deh. Sebagian besar (12 judul) adalah karya lama teman-teman FLP. Tiga judul lain kupilih karena penulisnya memiliki karya yang pernah dinominasikan untuk Khatulistiwa Literary Award. Aku masih mencoba memanfaatkan nominasi KLA sebagai panduan memilih buku. Di antara tiga itu, dua sangat kusukai, hanya satu saja yang kurang cocok dengan seleraku. Tampaknya tahun depan aku akan mencoba beberapa novel KLA yang lain.

Daftar bacaan 2012 dapat dilihat di sini.

Iklan

Naturalisasi terjadi ketika teks bahasa sumber mengandung konsep yang berasal dari bahasa sasaran. Jika seorang asing menulis artikel tentang Indonesia dalam bahasa Inggris, dan kita harus menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, kita harus waspada tentang konsep-konsep khas Indonesia di dalamnya dan tentunya kita harus menggunakan istilah Indonesianya, bukan terjemahan harfiah dari bahasa Inggrisnya. Misalnya, rice field tentunya diterjemahkan menjadi sawah atau huma, bukan ladang beras 🙂

Baru-baru ini saya menemukan kalimat berikut: "She would wake to the khoja‘s dawn prayer call, rallying their Muslim neighbors to devotions."

Jika diterjemahkan tanpa konteks keislaman, kalimat ini mungkin menjadi "Dia pun terbangun akibat panggilan doa subuh khoja, mengumpulkan tetangganya untuk ibadah."

Dengan naturalisasi, memanfaatkan peristilahan keislaman yang sudah umum dikenal di Indonesia, kalimat ini dapat diterjemahkan menjadi "Dia pun terbangun oleh azan subuh dari muazin, yang memanggil tetangga Muslimnya untuk mendirikan shalat."

* Diambil dari blog Catatan Penerjemahan

Dalam pembahasan tentang rujukan (hlm. 181-186) di bukunya, In Other Words, Mona Baker menyebutkan bahwa setiap bahasa memiliki pola rujukan yang berbeda-beda. Dalam bahasa yang satu, mungkin cukup menyebutkan nama seseorang satu kali, lalu dalam teks selanjutnya merujuknya dengan kata ganti orang sampai berhalaman-halaman kemudian. Pembaca dalam bahasa itu sudah langsung mengerti siapa yang dimaksud. Namun, ada pula bahasa lain yang harus lebih sering mengulang nama yang dimaksud untuk mengingatkan pembaca.

Dalam penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kata he dan she. Kita tidak bisa selalu menerjemahkan kedua kata ini menjadi dia saja, tetapi kadang-kadang harus menggantinya dengan nama tokoh agar rujukannya menjadi jelas. Agar terjemahan tidak terlalu sering mengulang nama, kita bisa juga memanfaatkan kata lain untuk menggantikan rujukan, misalnya:

* Identitas tokoh: gadis itu, si orang tua, kedua orang itu
* Pekerjaan tokoh: sang raja, si pengacara, pencuri itu
* Hubungan antara tokoh: suaminya, anaknya, atasannya, temannya

Kita tidak perlu khawatir bahwa kita tidak mengikuti perujukan dalam bahasa Inggris secara persis. Toh seperti kata teori, setiap bahasa memiliki pola perujukannya masing-masing. Yang penting adalah terjemahan yang dihasilkan jelas dan enak dibaca.

Contoh:
After her father’s death, Mosca‘s eyes had at least earned her a roof over her head. Her uncle, the older brother of her dead mother, was glad to have someone to take care of his accounts and letters. His niece was useful but not trusted, and every night he locked her in the mill with the account book to keep her out of trouble. This evening he had turned the key upon her as usual, without knowing that he was doing so for the very last time. He was now snoring like an accordion amid sweet dreams of grist and fine grain, with no inkling that his niece was loose yet again and embarked upon a desperate mission.

Setelah kematian ayahnya, setidaknya Mosca memperoleh tempat menumpang hidup berkat matanya itu. Pamannya, kakak mendiang ibunya, senang ada yang mampu menangani pembukuan dan surat-menyurat untuknya. Ia menganggap keponakannya itu bermanfaat, tetapi tak boleh dipercaya. Maka, setiap malam ia mengurung Mosca di penggilingan bersama buku pembukuan agar anak itu tidak menimbulkan masalah. Malam ini ia mengunci pintu dan mengurung keponakannya seperti biasa, tanpa mengetahui bahwa itulah terakhir kali ia melakukan itu. Kini ia sedang mendengkur bak akordeon sambil bermimpi indah tentang bulir halus dan serbuk gilingan, tak tahu-menahu bahwa anak itu lagi-lagi berkeliaran dan tengah mengemban sebuah misi nekat.

* Dari blog Catatan Penerjemahan


Tell adalah kata yang umum, dan barangkali paling mudah diterjemahkan menjadi mengatakan atau bilang. “A tells B” diterjemahkan menjadi “A mengatakan kepada B”.

Namun, kata ini sebenarnya memiliki makna yang beragam. Misalnya, situs The Free Dictionary mencantumkan sebelas makna, sedangkan Kamus Inggris-Indonesia Echols-Shadily mencantumkan tujuh padanan Indonesianya.

Berikut ini beberapa contoh penerjemahan kata tell yang sering saya temui (tidak mencakup semua definisi yang ada di kamus).

* She told her mother all about her experience during her trip to Italy.
* Dia menceritakan seluruh pengalamannya bepergian ke Italia kepada ibunya.

* He told his wife that a friend is coming for dinner that night.
* Dia memberi tahu istrinya bahwa ada teman yang akan ikut bersantap malam nanti.

* Mother told me to deliver this letter.
* Ibu menyuruhku mengantarkan surat ini.

* My father told me not to smoke.
* Ayahku melarangku merokok.

* I could tell from the way she smiles all day that her date went well last night.
* Karena dia tersenyum sepanjang hari, aku tahu kencannya tadi malam berjalan lancar.

* I can’t tell the twins apart.
* Aku tidak bisa membedakan si kembar.

* I tell you, he’s the thief!
* Percayalah, dialah pencurinya!

Dari blog Catatan Penerjemahan

Desember

29:
Meminang Bidadari, Asma Nadia & Birulaut ***

28:
Cinta Tak Terlerai, Jonru **1/2

27:
Shaman’s Crossing, Robin Hobb **1/2

11:
Dragon Haven, Robin Hobb ****

7:
The Book of Lost Things, John Connolly **1/2

November

26:
Here on Earth, Alice Hoffman *

22:
The Way of Kings, Brandon Sanderson ****

8:
Towers of Midnight, Robert Jordan & Brandon Sanderson ****

Oktober

28:
The Born Queen, Greg Keyes ***

17:
The Blood Knight, Greg Keyes ***

2:
The Charnel Prince, Greg Keyes ****

September

12:
Sebilah Pedang Mustika ***

Agustus

25:
The God of Small Things, Arundhati Roy **** (baca ulang)

Juli
10:
The Way of Shadows, Brent Weeks **1/2

Juni

25:
The Kite Runner, Khaled Hosseini *** (baca ulang)

3:
The Virgin Blue, Tracy Chevalier **

Mei
27:
Songmaster, Orson Scott Card ***

21:
Emma, Jane Austen ****

April

27:
Eats, Shoots and Leaves, Lynne Truss ***

20:
The Help, Kathryn Stockett *****

17:
Dragon Keeper, Robin Hobb ***

3:
Friends, Lovers, and Chocolate, Alexander McCall Smith ***

1:
Alvin Journeyman, Orson Scott Card ****

Maret

26:
The Blade Itself, Joe Abercrombie ****

Februari

20:
The Loneliest Magician, Irene Radford **1/2

16:
The Eyes of the Dragon, Stephen King ***1/2

5:
Room, Emma Donnoghue ****

2:
The Perfect Princess, Irene Radford **1/2

Januari

14:
The Glass Dragon, Irene Radford ***


Tahun ini aku membaca 32 buku, naik sedikit dari tahun lalu yang hanya 30 buku. Lagi-lagi gagal mencapai target membaca empat buku per bulan. Hiks.

Kalau dilihat polanya, sepertinya ini berkaitan dengan pekerjaanku menerjemahkan. Akhir-akhir ini kecepatanku menerjemahkan buku menurun, terutama karena sering terselang terjemahan dokumen–waktu yang dipakai untuk terjemahan jenis ini sebenarnya tidak banyak, tapi aku kadang kesulitan masuk kembali ke suasana menerjemahkan buku. Akibatnya, setiap beberapa bulan, aku harus mengejar tenggat dan mengurangi waktu membaca. Aku mengejar terjemahan Jonathan Strange & Mr Norrell jilid 2 pada bulan Februari, lalu jilid 3 pada bulan Mei. Mulai bulan Juli aku keranjingan Skritter, situs web untuk berlatih aksara Mandarin, sehingga sebagian besar waktu luang dipakai untuk berlatih, bukan membaca. Akhir tahun lagi-lagi aku mengejar terjemahan, kali ini The Eye of the World. Entah kenapa, tahun ini aku kebagian novel tebal-tebal. JSMN 1000-an halaman, sedangkan tEotW 800 halaman. Awal tahun ini pun menangani buku hampir 600 halaman.

Tahun ini aku melanjutkan penjatahan bacaan yang dimulai tahun lalu, yaitu setiap empat buku yang dibaca, keempat itu harus terdiri atas satu novel fantasi, satu nonfiksi (biasanya tentang agama atau bahasa), satu karya penulis Indonesia, dan satu bebas (biasanya fiksi karya penulis asing).

Fantasi

Fiksi penulis Indonesia

Fiksi penulis asing, non-fantasi

Islam

  • Quantum Ikhlas, Erbe Sentanu ***
  • 111 Teladan sang Khalifah, Rachmat Taufiq Hidayat ***
  • Aqidah Islam, Sayid Sabiq ***
  • Kenapa Kita Islam, Dr. Yusuf Qardhawi **

Bahasa

  • Tersesat Membawa Nikmat, Bahterawan ***
  • Translation, Zuchridin Suryawinata & Sugeng Hariyanto ****
  • Santun Bahasa, Anton M. Moeliono ***

Nonfiksi lain
That’s All,
Tami “Pepeng” Ferresta ****

Tema minggu ini adalah Grand Ole Opry, acara radio yang menyiarkan lagu country. Aku suka banget genre ini, tertular ayahku yang menggemarinya dan sering memutar lagunya, termasuk album Randy Travis, mentor untuk minggu ini. Lagu country mengandalkan melodi bagus dan lirik membumi, jadi biasanya enak didengar.

Ada

empat penyanyi yang penampilannya kusukai. Dua yang paling bagus adalah Kris Allen (âTo Make You Feel My Loveâ?, Bob Dylan) dan Anoop Desai (âAlways On My Mindâ?, Willie Nelson). Keduanya bernyanyi dengan sederhana, tidak banyak

gaya

, sehingga terdengar begitu tulus dan lembut. Bagus banget deh! Matt Giraud (âSo Smallâ?, Carrie Underwood) dan Megan Joy Corkrey (âI Go Walking After Midnight,â? Patsy Cline) juga terus menghadirkan

gaya

khas mereka masing-masing, dengan pilihan lagu yang tepat.

Adam Lambert menyanyikan âRing of Fireâ? (Johnny Cash) dengan tempo lambat, mengingatkanku pada salah satu peserta di Rockstar INXS (lupa namanya), dengan aransemen agak mirip, setidaknya pada permulaan. Masuk ke bait kedua, gayanya menjadi lebih khas Adam Lambert, tapi sayangnya ngga menjadi lebih baik. Malah jadi aneh, sok seksi tapi tak enak dilihat.

Sisanya, nggak ada yang jelek sih. Semua menyanyi dengan baik, tapi standar. Cukup menarik mendengar versi cowok dari lagu âJesus Take the Wheelâ? (Carrie Underwood) yang dibawakan Danny Gokey, tapi tidak istimewa. Lil Rounds (â?Independence Dayâ?, Martina McBride) bagus sih, seperti biasa, tapi membosankan. Dia bilang, dia mencoba ngga terlalu nge-R&B untuk menunjukkan bahwa dia bisa menyanyikan lagu genre lain, tapi eksperimen ini gagal. Suaranya dan

gaya

musiknya nggak cocok. Padahal kalau dia tetap mempertahankan kekhasannya, mungkin bisa lebih bagus. Allison Iraheta.(âBlame It on Your Heartâ?, Patty Loveless) cukup mantap, tapi kekhasan

gaya

rock-nya kurang keluar, jadi agak karaoke. Michael Sarver (âAin’t Goin’ Down ‘Til the Sun Comes Up" Garth Brooks) cukup menyenangkan, dan genre ini cukup cocok dengan suaranya, tapi biasa aja. Alexis Grace (âJolene,â? Dolly Parton) dan Scott MacIntyre (â?Wild Angels,â? Martina McBride) biasa aja.

Perkiraan yang disisihkan besok? Mungkin Alexis, Michael, atau Scott.

Be careful what you wish for, you might just get it. Sudah lama penonton AI (setidaknya yang sering berkomentar di forum AI) berharap bahwa produser lebih banyak meliput peserta yang lolos ke babak semifinal, supaya penonton sudah mengenal setiap orang itu sebelum babak tersebut dimulai. Musim ini, kayaknya hampir semua diliput, tapi akibatnya malah bingung menghafalnya, hehehe. Apa lagi sekarang ada 36 orang semifinalis.

Dari kedua belas peserta yang tampil malam ini, rasanya aku sudah pernah mendengar sebagian besar namanya, tapi ngga ingat sama sekali bagaimana audisi mereka yang pertama atau di

Hollywood

(kecuali Normund Gentle yang kocak, tentunya). Aku berharap ada yang mirip Jason Castro, tidak dikenal sebelum semifinal, tapi begitu tampil langsung mengesankan.

Menurutku, minggu ini lebih bagus daripada minggu lalu, banyak lagu yang berbeda dengan lagu yang biasanya dipilih pada tahap ini. Satu hal lagi, sekarang juri bergiliran berkomentar pertama, urutannya tidak lagi Randy-Kara-Paula-Simon.

Dua cewek pertama, Jasmine Murray ("Love Song," Sara Bareilles) dan Jeanine Vailes (âThis Love,â? Maroon 5) nggak terlalu bagus, banyak fals. Tapi keempat cewek berikutnya bagus-bagus, sampai-sampai aku nggak bisa memilih mana yang paling kusuka.

Allison Iraheta cukup mantap menyanyikan âAloneâ? (Heart) dan kenyataan bahwa dia baru 16 tahun mengingatkanku pada Jordin

Sparks

dan Diana DeGarmo, paduan yang sepertinya disukai penonton Amerika, juga juri. Mungkin dia yang bakal jadi Top Girl dari kelompok ini.

Jesse Langseth ("Bette Davis Eyes," Kim Carnes) dan Mishavonna Henson ("Drops of Jupiter," Train) bersuara bagus dan aku suka teknik menyanyi mereka dan lagu yang mereka pilih, tapi aku agak ragu apakah mereka cukup disukai penonton. Sayang sekali kalau mereka ngga lolos, soalnya bagus dan aku ingin mendengar mereka bernyanyi lagi. Mudah-mudahan dapet wild card. Megan Joy Corkrey ("Put Your Records On," Corinne Bailey Rae)), di awal lagu dia lumayan bagus, tapi di bagian belakang menurutku agak teriak-teriak, terlalu bersemangat barangkali tapi jadi mirip orang berkaraoke. Tapi, dia cantik dan gayanya imut, kayaknya bakal banyak yang suka (aku juga suka, hehe). Juri juga memuji-muji.

Dari sisi cowok, jelas Adam Lambert (âSatisfaction,â? Rolling Stones) yang paling bagus, jauh di atas cowok lain. Dia begitu nyaman di atas panggung, karena memang sudah lama bekerja di teater musik. Dia juga bisa mengubah-ubah lagu, mengingatkanku pada David Cook dari musim lalu. Sudah hampir pasti dia yang bakal merebut posisi Top Guy dari kelompok ini.

Nick Mitchell ("And I Am Telling You I’m Not Going," Jennifer Holliday). Hahahaha⦠Kocak banget dah, seperti biasa! Nyanyinya juga lumayan bagus, tapi ngga terlalu cocok untuk AI.

Sisanya standar. Matt Breitzke ("If You Could Only See," Tonic) sebenarnya suaranya mantap, tapi aransemennya nge-rock, ngga cocok untuk dia maupun lagunya. Kris Allen (âMan in the Mirror,â? Michael Jackson) lumayan, lagunya juga kusuka, tapi ya ngga istimewa. Matt Giraud di video klipnya ditampilkan audisi Hollywoodnya, menyanyikan â

Georgia

on My Mind,â? bagus banget. Sayangnya, penampilan kali ini ("Viva la Vida", Coldplay) ngga menyamai audisi itu. Lagunya ngga cocok sama suaranya, peralihan ke falseto-nya gagal, improvisasi banyak fals. Kai Kalama ("What Becomes of the Brokenhearted," Jimmy Ruffin) yah. Paling jelek di antara cowok, membosankan.

Jadi, siapa yang akan lolos? Kuharapkan Adam Lambert dan dua cewek dari empat yang kusebutkan di atas. Kemungkinan dapet wild card, mudah-mudahan dua cewek sisanya.

Asyik! Tahun baru! Tiba saatnya untuk mengerjakan kegiatan favoritku: Mendata bacaan setahun lalu! Tentu saja paling pas jika ini dimulai dengan angka:

  • Judul yang dibaca tahun 2008: 30
  • Judul yang dibaca tahun 2007: 44
  • Judul yang dibaca tahun 2006: 27

Jumlah bacaanku tahun ini menurun dari tahun 2007. Sungguh menyedihkan. Padahal targetku sebulan empat buku. Ini kira-kira seminggu satu buku, dengan pertimbangan satu buku bisa dibaca dengan mencicilnya sepanjang minggu dan diselesaikan pada akhir pekan. Ternyata ada saja kegiatan lain yang menyita perhatian, baik kegemaran nonton serial televisi atau kesibukan pindah rumah pada pertengahan tahun, atau memang ada buku tebal yang membacanya memakan waktu panjang. Dari analisis tahun 2007, terungkap bahwa aku jarang membaca karya anak bangsa ataupun buku nonfiksi untuk menambah ilmu. Maka, untuk tahun 2008, aku berencana menjatah jenis buku yang kubaca setiap bulannya, sebagai berikut:

  • Fantasi. Ini genre favoritku, tapi buku yang belum dibaca masih menumpuk. Aku ingin segera menghabiskannya, supaya bisa menentukan seri mana yang layak dilanjutkan dan mana yang tidak, juga bisa membeli novel fantasi baru tanpa merasa bersalah karena ada buku yang belum dibaca.
  • Nonfiksi. Ini berselang-seling antara buku agama dan buku bahasa atau penerjemahan. Buku agama juga menumpuk di rumah, hasil kekalapan di beberapa pameran buku.
  • Karya orang Indonesia. Ini berselang-seling antara buku karya teman FLP dan buku Indonesia lain.
  • Bebas. Untuk yang ini, biasanya aku membaca cerita silat atau fiksi non-Indonesia.

Mari kita lihat, seberapa berhasil rencana ini.

Penulis

  • Penulis asing: 19 judul (63%, 3 terjemahan dari bahasa Mandarin, 1 bahasa Inggris)
  • Penulis lokal: 11 judul (37%)

Lumayan, kan? Persentase karya penulis Indonesia naik dua kali lipat dari tahun lalu. Asyik juga, akhirnya aku bisa menyempatkan diri membaca beberapa buku Indonesia yang sebenarnya sudah ingin kubaca sejak lama, seperti Gajahmada karya Langit Kresna Hadi, Istana Kedua karya Mbak Asma, dan Hafalan Sholat Delisa karya Tere Liye, yang ketiga-tiganya tidak mengecewakan.

Genre

  • Nonfiksi: 7 judul (23%)
    • Bahasa: 5 judul (17%)
    • Agama: 1 judul (3%)
    • Lain-lain: 1 judul (3%)
  • Fiksi: 23 judul (77%)
    • Fantasi: 6 judul (20%)
    • Cersil: 3 judul (10%)
    • Lain-lain: 14 buku (47%)

Persentase nonfiksi juga meningkat, hampir lima kali lipat. Dan aku merasa ilmuku bertambah dengan membaca buku-buku tersebut. Sayangnya, ada dua buku agama yang menjadi buku mogok, mungkin karena bukunya tebal sehingga aku merasa agak jenuh. Mungkin sebaiknya tahun 2009 ini aku membaca buku agama yang tipis-tipis saja dulu. Yang penting, tumpukan buku harus dikikis dulu.

Persentase novel fantasi kian menurun, karena memang jatahnya dikurangi. Tapi, entah kenapa, aku tidak merasa rindu padanya seperti tahun lalu. Mungkin selera membacaku mulai berubah, dan aku mulai tertarik dengan fiksi di luar genre ini. Entahlah, kita lihat saja kecenderungannya tahun 2009 ini.

Tahun 2008 aku juga mulai membaca cerita silat lagi. Sekali lagi, sudah lama aku berniat melahap koleksi cersil suamiku, tetapi tak pernah menyempatkan diri karena koleksi bukuku sendiri masih belum habis dibaca. Dan sekali lagi, berkat penjatahan, akhirnya aku bisa menikmati lagi genre yang dulu kugandrungi ini.

7 Judul Favorit

  • The Final Empire: Mistborn 1, Brandon Sanderson. Novel fantasi yang unik dan segar.
  • In Other Words, Mona Baker. Buku tentang penerjemahan yang terperinci dan bermanfaat.
  • Hafalan Shalat Delisa, tere-liye. Novel tentang tsunami Aceh yang polos dan menyentuh.
  • Jovah’s Angel, Sharon Shinn. Perumpamaan menarik tentang Tuhan.
  • Gajahmada, Langit Kresna Hariadi. Novel sejarah Indonesia yang patut diapresiasi.
  • Girl with a Pearl Earring, Tracy Chevalier. Terpukau oleh idenya.
  • Istana Kedua, Asma Nadia. Penokohan dan bahasanya asyik.

Penutup

Agaknya rencana penjatahan yang kususun tahun lalu cukup berhasil meningkatkan keragaman bacaan, meskipun belum sempurna. Pola ini akan kulanjutkan tahun ini.

The title promises a tantalizing story. A time traveler? I love stories that involve time paradoxes! Time traveler’s wife? Even better! I’m always drawn to stories that takes a fantasy element and puts it in an everyday context, i.e. focusing on the ordinary rather than the extraordinary. This must be a story about how time travel affects the life of this couple. A quick look at the blurb shows that this is indeed the case.

And so we follow the love story between Clare and Henry. She first met him when she was six and he was thirty-six, already married to her future-self. He first met her when she was twenty, having spent her childhood with him, and he was twenty-eight, ignorant of her and their future. I like how at any given time one of them always knows more than the other, while the other is clueless about their history together. I especially like the parts when Henry is with young Clare, or with Alba. I feel that it is these parts that show the full effect of time travel on the relationship between the characters.

Unfortunately, the rest of the story is a bit bland, offering almost no internal conflicts between Clare and Henry, as if their only problem in this world is time travel. We see very little of how they fall in love, for example, only that their love is “meant to be”. And the fatalistic nature of the time paradox is rather depressing at times.

So, three stars from me. The novel has a great premise and some good parts, but on the whole it falls short in the execution.

Arsip