Rak Buku Femmy

Posts Tagged ‘Resensi buku

Sudah lama aku ingin terjun kembali membaca cerita silat, merenangi lagi sungai-telaga, apa lagi setelah suami membawa koleksinya ke rumah. Tapi, aku merasa “wajib” menghabiskan dulu daftar dosaku yang panjang itu sebelum merambah ke sana, jadi keinginanku ini tak kunjung kulaksanakan.

Nah, akhir pekan lalu ada undangan dari Om Tjan ID (penerjemah tjersil) yang menikahkan anaknya di Semarang. Maka kami Ban-liong-siang-koay pun berangkat ke sana untuk turut merayakan kegembiraan, sambil tak lupa menggunakan kesempatan ini untuk berkumpul dengan kawan-kawan sesama penggemar tjersil, utamanya di Integrita, kantor penerbit Patja Satya. Melihat semua buku yang berjajar di rak, rasanya ingin sekali membaca semuanya sekaligus. Suami menawarkan membeli beberapa, tetapi teringat tumpukan buku belum dibaca di rumah, aku menolak. Namun, ternyata Om Tjan memberikan buku terjemahannya yang terbaru sebagai cendera mata khusus bagi anggota MTjersil. Jadi, kami tidak pulang dengan tangan hampa.

Senyuman Dewa Pedang (劍神一笑 – Kiam-sian-it-siauw) karya Khu Lung adalah buku kesepuluh dalam seri Liok Siau-hong. Dulu aku pernah nonton serial televisinya, tetapi ceritanya sudah lupa semua, dan entah apakah buku ini dimasukkan ke serialnya.

Dalam jilid ini, Liok Siau-hong menyelidiki hilangnya sahabatnya Liu Ji-kong, dan datang ke sebuah desa sepi yang terpencil bernama Ui-sik, tempat “bunga tak harum, burung tak berkicau, ayam tak berkeliaran, anjing tak berlarian dan kelinci pun tak bisa buang air.” Warga desa itu juga aneh-aneh. Misteri pembunuhan yang lumayan bikin penasaran. Dalam cerita ini juga kita bertemu kembali dengan si Kuah Daging, Sukong Ti-sing, Lausit Hwesio, dan Sebun Jui-soat.

Yah… lumayan sebagai buku tjersil pertama yang kubaca setelah sekian lama. Hanya 228 halaman, ringan dan kadang lucu. Lanjut ke buku berikutnyaaa….

Iklan

This book teaches you to trust your instinct. If you suddenly feel fear in a situation, it is probably because your instinct is telling you that there’s danger nearby, so you’d better act fast to avoid it.

But you shouldn’t confuse true fear and worry. If each time you walk in a dark alley, you’re scared that there might be thugs laying in wait, that’s actually worry. Worry is what you feel about what *might* happen, without any reason whatsoever. True fear is what you feel when there is actually danger to you.

Just in case you haven’t learned how to listen to your instinct, the book also gives you some danger signs to look out for when you meet a stranger, as well as some strategies to deal with dangerous or troublesome people. It is also sprinkled with many anecdotes to illustrate these situations, but most of them feel so alien to me. I don’t see how stories about celebrity stalkers and blackmailers have any kind of relevance to my life.

But, as a whole, this book is useful and informative, but I hope I’ll never be in a situation where I’ll need to apply the information I learned from this book.

Ini cerita silat kedua yang kubaca tahun 2008. Aku ingin membaca semua karya Chin Yung yang belum pernah kubaca atau kutonton, dan kebetulan buku inilah yang pertama kutemukan di rak koleksi tjersil suamiku.

Soh Sim Kiam (Pedang Hati Suci, diterjemahkan Gan KL dari 連城訣) berkisah tentang Tik Hun, seorang pemuda desa yang hidup tenang bersama gurunya, Jik Tiang-hoat, dan putri gurunya, Jik Hong. Pada awal cerita mereka diundang untuk menghadiri perayaan ulang tahun kakak seperguruan Jik Tiang-hoat, dan di sanalah semua permasalahan dimulai.

Novel ini tidak terlalu panjang, hanya 11 jilid dengan total 532 halaman, dan karenanya tidak banyak petualangan yang dialami Tik Hun. Hanya ada dua konflik besar di dalam cerita ini yang, tidak seperti plot rumit dalam trilogi Chin Yung, nyaris tidak berhubungan satu sama lain, setiap konflik punya tokoh jahat dan tokoh wanitanya masing-masing. Hampir terasa seperti membaca dua cerita. Aneh.

Sampul Soh Sim Kiam

Soh-sim-kiam
Konflik pertama terkait dengan judul buku ini, nama sebuah ilmu pedang yang diperebutkan oleh Jik Tiang-hoat dan kedua saudara seperguruannya. Ilmu ini unik karena nama-nama jurusnya didasarkan pada baris-baris puisi. Sayangnya, aku tak tahu apa-apa tentang puisi Cina. Andaikan tahu, tentunya lebih bisa menikmati. Di antara semua puisi yang disebut, hanya satu yang kukenal karena di milis tjersil pernah dibicarakan, termasuk oleh suami.

夜思.(李白)
床前明月光
疑是地上霜
舉頭望明月
低頭思故鄉

Rindu d’Hening Malam (Li Bai)
Cahaya rembulan depan pagar perigi
Sudahkah embun beku, menutupi bumi
Dongakkan kepala, rupanya terang bulan
Waktu menunduk, terkenang kampung halaman

Selain ilmu pedang, ternyata Soh-sim-kiam juga menyimpan suatu rahasia lain, sehingga orang lain di dunia persilatan turut mengincar kitab silat tersebut, beserta kunci teorinya.

Hiat-to-bun
Konflik kedua adalah keterlibatan Tik Hun dengan Hiat-to-bun (Perkumpulan Golok Berdarah) yang jahat, yang menimbulkan kesalahpahaman sehingga para pesilat menyangkanya orang jahat juga.

Aku membaca bagian ini dengan dua perasaan bercampur. Pertama, sebal karena situasinya sedemikian rupa sehingga Tik Hun tak mampu berbuat apa-apa untuk menyangkal tuduhan ataupun meluruskan kesalahpahaman. Kedua, sedikit kagum karena aku teringat pada cersil karangan sendiri yang memiliki konflik serupa (tokoh utamanya disangka jahat), tetapi kesalahpahaman kubuat tidak sehebat yang disusun Chin Yung, hehe.

Kesan
Secara keseluruhan, buku ini lumayan juga, ada bagian yang hambar, tetapi ada juga bagian yang menarik..

Dari sisi ilmu silat, agak menyebalkan bahwa selama setengah cerita ilmu Tik Hun tidak berkembang, bahkan sampai harus menuruti orang jahat untuk bertahan hidup. Saat dia sudah lebih lihai pun, ilmunya tidak terlalu dimanfaatkan dengan seru, huh-huh.

Dari sisi cerita, dalam paruh novel pertama, satu-satunya bagian yang kusuka hanyalah cerita Ting Tian tentang kisah cintanya dengan Leng Siocia. Sangat menyentuh bahwa pada bulan-bulan pertama mereka hanya berinteraksi melalui bunga yang ditaruh Leng Siocia di balkon.

Di tengah-tengah cerita, di jurang bersalju saat tinggal empat orang yang tersisa (Tik Hun, Hiat-to Lo-co, Hoa Tiat-kan, dan Cui Sing) dan tidak bisa ditebak bagaimana keadaan akan bergulir, barulah cerita terasa seru, dan terus berlanjut sampai akhir buku, yang membuatku terjaga sampai jam dua malam untuk menamatkannya.


Arsip

Iklan