Rak Buku Femmy

The Space Between Us – Thrity Umrigar

Posted on: 26 Desember 2007

Buku ini adalah buku kedua yang kuterjemahkan untuk redaksi fiksi Gramedia (yang pertama adalah Stardust). Mulanya aku agak ragu menerima tugas ini, karena sepertinya bahasanya agak “nyastra” dan saat itu (April 2006) aku belum pernah menerjemahkan novel serius selain To Kill A Mockingbird. Tapi pikirku, masa baru order kedua sudah tawar-tawar? Jadi, kuterima juga tugas ini.

Ternyata, menerjemahkan buku ini sangat menyenangkan. Memang agak menantang karena beberapa kalimatnya puitis, tapi mencari padanan kata yang pas juga terasa mengasyikkan. Mudah-mudahan saja hasilnya juga cukup bagus dan bisa dinikmati pembaca.

Tantangan lain adalah kata berbahasa daerah yang bertaburan, yang mengharuskan aku banyak melakukan riset di internet. Sebenarnya, semua kata ini telah diselipkan secara piawai sehingga bisa dikira-kira maknanya dari konteks dan tak memerlukan catatan kaki. Namun, sebagai penerjemah, tentu saja aku tak boleh hanya mengandalkan tebak-tebakan, harus tahu persis makna setiap kata. Riset ini pun menjadi kenikmatan tersendiri, karena memungkinkan aku menjelajah sebentar ke Bombay dan mengintip kebudayaan Parsi. Pada akhir pengerjaan, semua kata ini kurangkum dalam tabel dan kukirimkan ke penulisnya, yang dengan sangat baik hati memeriksanya dan mengoreksinya.

Selain hal teknis di atas, ceritanya juga bagus! Buku ini berkisah tentang dua perempuan yang terpisah jarak status sosial. Bhima adalah pembantu di rumah Sera, dan konflik besarnya adalah cucu Bhima yang hamil di luar nikah, dan upaya mereka berdua untuk membantu gadis itu menghadapi masalah ini. Namun, di sela-sela cerita masa kini, banyak juga kisah sendu masa lalu kedua perempuan tersebut, terutama tentang hubungan mereka dengan suami dan keluarga masing-masing.

Hubungan majikan-pembantu yang tergambar di sini mungkin tampak aneh dan agak kejam bagi masyarakat Barat, tapi sepertinya beberapa aspeknya juga muncul di masyarakat kita. (Jadi ingat Nagabonar Jadi 2, adegan ketika Nagabonar mengajak kedua pembantu anaknya makan bersama-sama, dan kelihatan mereka berdua tampak sangat canggung.)

Kesimpulannya, ini buku bagus! Kisah yang menyentuh, dan kadang membuatku merenung. Ayo baca, bacaaa…

Berikut sedikit cuplikan dari buku tersebut:

Prolog

Perempuan kurus berbalut sari hijau itu berdiri di atas bebatuan licin dan menatap perairan gelap di sekelilingnya. Angin hangat mengurai helai-helai rambutnya yang tipis, meloloskannya dari gelung. Di belakangnya, keramaian kota terdengar sayup, terbungkam oleh deburan ombak tanpa henti di sekeliling kakinya yang telanjang. Selain ketam yang didengar dan dirasakannya merayap-rayap di sekitar bebatuan, dia sendirian di sini — sendiri bersama lautan yang bergumam dan bulan di kejauhan, goresan tipis serupa senyum di langit malam. Tangannya pun kosong, karena dia telah membuka kepalan dan melepaskan bawaannya yang berisi helium, mengamati sampai balon terakhir ditelan kegelapan malam Bombay. Tangannya kini kosong, sekosong hatinya, laksana batok kelapa yang telah dikerok dagingnya.

Sambil menyeimbangkan diri di atas bebatuan dengan hati-hati dan merasakan air pasang menjilati kaki, perempuan itu menengadahkan kepala ke langit kelam mencari jawaban. Di belakangnya terdapat kota yang hilang dan kehidupan yang saat ini terasa semu dan tak nyata. Di hadapannya, cakrawala yang mempertemukan laut dan langit nyaris tak terlihat. Dia bisa mendaki batu-batu ini, memanjat tembok semen, dan memasuki dunia kembali; bergabung lagi dalam irama kota yang berdenyut liar tak menentu. Atau dia bisa melangkah ke laut yang menanti, membiarkan sang samudra merayunya, membenamnya dengan bisik mesra.

Dia kembali memandang langit, mencari jawaban. Namun, satu-satunya bunyi yang terdengar hanyalah degup rutin jantungnya sendiri yang patuh….

Bab Satu

Meskipun fajar sedang menyingsing, dalam hati Bhima senja yang tiba.

Setelah berguling ke kiri di atas kasur kapuk tipis di lantai, dia duduk dengan tiba-tiba, seperti kebiasaannya setiap pagi. Dia mengangkat tangan kurusnya ke atas kepala sambil menguap dan menggeliat, dan serta-merta bau apek meruap santer dari ketiak dan menyerang lubang hidungnya. Sesaat dia hanya duduk di tepi kasur, telapak kaki kapalannya rata dengan lantai tanah, lututnya ditekuk, dan kepalanya diletakkan pada lengan yang terlipat. Pada saat itu dia hampir dapat beristirahat, benaknya untungnya masih kosong dan hampa dari cobaan yang menantinya hari ini, besok, lusa…. Untuk memperpanjang nikmat tanpa pikiran ini, tanpa minat dia meraih kaleng tembakau kunyah yang disimpan di tepi tempat tidur. Dia menjejalkan segumpal ke dalam mulut sehingga terlihat menonjol seperti bola kriket di mukanya tirus.

Ketentraman Bhima berusia pendek. Dalam cahaya hari baru yang samar dan lembut, dia melihat siluet tubuh Maya saat gadis itu beringsut di atas kasur di sisi kiri gubuk mereka. Gadis itu mengigau dan merintih lirih, dan mau tak mau Bhima merasa hatinya melembek dan lumer, seperti dulu ketika dia menyusui ibu Maya, Pooja, sekian tahun yang lalu. Tergerak oleh suara Maya yang seperti anak anjing, Bhima bangkit dari kasur sambil berdengkus, lalu menghampiri tempat cucunya berbaring tidur. Namun, dalam sedetik saat melintasi gubuk kecil itu, sesuatu berubah di dalam hati Bhima, sehingga rasa keibuan yang sabar barusan beralih menjadi angkara murka yang membatu, yang sudah bersemayam dalam dirinya sejak beberapa minggu yang lalu. Dia berdiri menjulang di samping gadis yang lelap itu, yang kini mendengkur halus, sama sekali tak menyadari titik amarah di mata neneknya, yang menatap perut Maya yang mulai membesar.

Satu tendangan cepat, kata Bhima dalam hati, satu tendangan cepat pada perut, disusul satu tendangan lagi dan satu lagi, dan semuanya akan berakhir. Lihatlah dia tidur di situ, seperti pelacur tak tahu malu, seolah-olah tak punya kesusahan di dunia ini. Seolah-olah dia tidak menjungkirbalikkan hidupku. Kaki kanan Bhima berkedutan menunggu; otot di betisnya menegang saat dia mengangkat kaki beberapa senti dari tanah. Mudah sekali. Dan dibandingkan dengan apa yang mungkin dilakukan nenek-nenek lain kepada Maya — dijerumuskan tiba-tiba ke lubang sumur, kaleng bensin dan korek api, dijual ke rumah bordil — yang ini sudah sangat manusiawi. Dengan cara ini, Maya tetap hidup, tetap bisa melanjutkan kuliah dan memilih kehidupan yang berbeda dengan yang dikenal Bhima selama ini. Demikianlah seharusnya, demikianlah keadaannya selama ini, hingga gadis dungu ini, gadis yang berhati besar dan sekarang berperut besar ini, malah hamil.

15 Tanggapan to "The Space Between Us – Thrity Umrigar"

Tapi pikirku, masa baru order kedua sudah tawar-tawar?- *mencatat* Salut, Fem:-) Aku banyak belajar dari postingan ini.

Terima kasih komentarnya, Rin. Syukurlah kalau ada pelajaran yang dipetik (meski aku nggak tahu, pelajaran yang mana, hehehe).

Bahasanya bagus sekali, mengalun seperti puisi. Pantas kalau si penerbit menjatuhkan tugas besar itu kepada anda. Saya salut karena kepingin bisa menerjemah sebaik ini, tapi bidang yang ingin saya geluti itu adalah sains.

Terima kasih sekali komentarnya. Bahasa aslinya sendiri memang indah, jadi mau tak mau terjemahannya mengikuti. Dulu saya kuliah di bidang teknik kimia lho, jadi kemampuan menerjemahkan dan sains tidak harus bertentangan, bisa berjalan seiring.

Halo Mbak Femmy🙂 Salam kenal, saya suka banget penerjemahan cerita ini. Untaian katanya indah dan mengalun. Benar-benar keren😀 Sudah terbit ya bukunya, Mbak? Jadi pingin hunting ^-^

halo selviya, salam kenal juga. sama, saya juga suka menerjemahkan novel ini, prosesnya sangat mengasyikkan. bukunya sudah lama terbit, mungkin sudah tidak ada di toko buku. coba ke http://www.inibuku.com, kulihat sebentar ke sana, sepertinya masih ada stok. Kalau tidak ada, coba aja pesan langsung ke penerbit gramedianya.

[…] Sekadar berbagi, saya meminta variasi genre baru sewaktu menyunting saja. Itu pun mengerjakan dua buku. Baca juga pengalaman Femmy Syahrani. […]

WOW. membaca tulisan hasil terjemahan anda membuat saya tidak berani berkata bahwa saya bisa melakukan hal yang sama. Pantas, lembar lembar terjemahan ujian saya tidak berbalas kerjaan dari beberapa penerbit yang pernah menguji saya. Salut.

Mas Urip, terima kasih komentarnya. Teks asli buku ini memang bagus dan puitis, mau tak mau terjemahannya mengikuti gaya ini. Saya juga terbantu dengan adanya tesaurus, sehingga bisa memilih kata yang terasa pas.

Bagus ceritanya….kalo blh minta sarannya juga donk mbk,saya seorang mahasiswi sastra inggris….saya mencari bahan buat skripsi,tapi msh blm tau novel yang enak untuk dianalisis itu yang seperti apa….kira2 novel yang jalan ceritanya gak datar……terlalu banyak pilihan malah jadi tambah bingung…..ditunggu sarannya ya mbk…..

Saya juga tidak tahu novel yang enak dianalisis seperti apa, soalnya belum pernah menganalisis novel sih. Saya bukan lulusan sastra Inggris. Mungkin bisa tanya sama dosen pembimbing?

wah mbak hebat juga ya, saya salut

Alhamdulillah, terima kasih apresiasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

%d blogger menyukai ini: