Rak Buku Femmy

Resensi Bahtiar HS tentang Panah Patah Sangkuriang

Posted on: 14 April 2005

Pada dasarnya, bercerita adalah upaya menceritakan ulang (
retelling the story) suatu hal yang sama di masa lalu. Tentu saja, dengan tambahan modifikasi di sana-sini yang dilakukan penceritanya sebagaimana cerita dari mulut ke mulut. Jika cerita adalah sebuah objek, maka penceritaan ulang boleh jadi merupakan upaya melihat kembali objek yang sama dari sudut pandang yang mungkin sedikit berbeda untuk memberikan interpretasi baru.

Justru di situlah barangkali letak menariknya sebuah cerita. Dari satu kejadian yang sama bisa diceritakan kembali dengan beragam versi. Siapa yang tidak kenal dengan cerita
Beauty and the Beast? Cerita masyhur itu sangat beragam, mulai dari versi cerita tradisionalnya dari Perancis, versi yang ditulis oleh Robin McKinley, versi Walt Disney, sampai dengan versi VCD anak-anak produksi lokal yang banyak beredar saat ini. Yang tentu saja menarik adalah bahwa di setiap versi selalu ada “perbedaan� dengan versi yang lain, entah pada tokoh dan karakternya, setting, ataupun hal lainnya.

Pada versi McKinley misalnya, yang ditulisnya tahun 1978, Beauty digambarkan sebagai gadis buruk rupa dibanding dua saudara perempuannya yang lain. Ia memiliki perhatian yang teramat kecil pada penampilannya. Meski demikian, ia pandai, senang belajar dan gila membaca buku-buku. Ia juga ahli menunggang kuda. Namun, namanya bukan Beauty, melainkan Honour. Dan, mengikuti plot besar pada setiap versi, dalam cerita ini Beauty berperan penting dalam menolong ayahnya ketika keluarga mereka mengalami tragedi dan jatuh ke tangan Beast. Kesudahan cerita ini tentu saja sudah sama-sama diketahui.

Ironisnya, meski Indonesia dari Sabang sampai Merauke merupakan gudang cerita rakyat, namun kenyataannya tak banyak penulis yang suka akan gaya “penceritaan ulang� ini. Femmy Syahrani mungkin salah satu pengecualian itu. Menyaksikan film-film Walt Disney – yang notabene banyak mengangkat dan memodifikasi dongeng, mengusiknya untuk bereksperimen dengan cerita rakyat lokal. Maka, terbitlah novel
Panah Patah Sangkuriang (PPS), novel retelling pertamanya ini.

Membaca judulnya saja sudah memberikan kesan kepada pembaca bahwa novel ini merupakan penceritaan ulang dari cerita lama. Pada novel ini, Legenda Tangkuban Parahu yang berfokus pada tokoh Sangkuriang dan Dayang Sumbi, digubah Femmy sedemikian rupa sehingga alur cerita dongeng yang sederhana dan tokoh yang biasanya hitam-putih dibuatnya lebih kaya dan manusiawi. Bahkan ia mencoba-coba memberikan sedikit
twist (penyimpangan dari pakem). Misalnya, Sangkuriang yang biasanya congkak dan keras kepala, pada PPS ini dibuatnya sedikit “berbeda�.

Cerita berawal dari tengah, pada saat busur dan panah Sangkuriang, buatan kakeknya yang telah tiada, mulai kehilangan kesaktiannya. Panah dari busur itu meleset, tidak tepat lagi pada sasarannya seperti selama ini. Ternyata hal ini adalah pertanda kutukan kakek Sangkuriang terhadap ibunya, Dayang Sumbi, akan segera berakhir.

Dayang Sumbi pernah dikutuk ayahnya, karena menikahi Tumang, seorang pemuda sakti, murid perguruan milik ayahnya sendiri. Pada saat kutukan itu terjadi, Dayang Sumbi berubah menjadi buruk rupa dan Tumang dikutuk menjadi seekor anjing. Buku ramuan obat milik ayahnya yang sakti dikelilingi mantra dan tidak dapat dibaca orang. Kakek Sangkuriang sendiri menutup perguruannya dan memulangkan murid-muridnya. Kutukan ini akan berakhir jika orang tua itu telah meninggal dan kesaktian mantranya luntur. Dan itu kini telah terjadi. Kitab ramuan itu sudah bisa dibaca Dayang Sumbi dan mereka segera akan terbebas dari kutukan.

Sangkuriang disuruh ibunya mencarikan hati hewan sebagai salah satu bahan ramuan obat untuk kesembuhannya. Namun, Sangkuriang salah sasaran ketika hendak memanah seekor kijang. Justru Tumang yang tertembus panahnya dan kemudian mati. Hati Tumang itulah yang diserahkan kepada ibunya sebagai bahan ramuan obat.

Demikian cerita itu berlanjut. Dayang Sumbi marah. Sangkuriang menyingkir dengan kepala terluka pukulan sendok kayu ibunya. Dayang Sumbi kembali cantik dan awet muda. Dan … beberapa tahun kemudian Sangkuriang bertemu lagi dengan gadis cantik yang tak lain ibunya sendiri, sampai terbentuknya gunung Tangkuban Parahu.

Meski Femmy tetap setia pada alur cerita tradisionalnya, seperti diakuinya di akhir buku (hal 115), ia mencoba menggali motivasi dan perasaan kedua tokohnya untuk “melogiskan� alur cerita dengan jalan memberi “penjelasan� pada hal-hal yang ganjil. Misalnya mengapa Dayang Sumbi mau menikah dengan Tumang, seekor anjing? Mengapa Sangkuriang tidak mengenali wajah ibunya ketika bertemu kembali pada saat ia sudah dewasa?

Namun, jika dibandingkan dengan berbagai versi cerita rakyat tentang Legenda Tangkuban Parahu, ada beberapa hal yang “berbeda� dengan cerita Femmy ini. Pada cerita ini tidak disebut tentang Raja Sungging Prabangkara, Raja Galuh Pakuan yang disebut-sebut sebagai ayah (atau ayah angkat dalam versi lain) Dayang Sumbi. Bukan kakek Sangkuriang yang sakti sebagaimana diceritakan Femmy. Sedangkan Tumang memang seekor anjing yang merupakan peliharaan kesayangan sang Raja Sungging, bukan jelmaan dari pemuda yang menjadi kekasih Dayang Sumbi karena dikutuk ayahnya.

Pada cerita Femmy juga ada
twist, bahwa yang membantu Sangkuriang membendung sungai Citarum dan membuat perahu adalah hewan-hewan hutan, teman-teman Sangkuriang selama dalam pengembaraannya. Ia bisa melakukan itu karena memiliki ilmu telepati, warisan dari Tumang, ayahnya. Sementara pada beberapa versi, Sangkuriang dibantu oleh bala tentara Siluman Guriang Tujuh untuk menyelesaikan tugas itu. Juga bahwa Tumang mati karena salah sasaran, tidak sengaja terbunuh pada versi PPS. Sedangkan pada versi lain, Sangkuriang memang “sengaja� membunuh Tumang untuk tidak membuat ibunya kecewa karena ia tidak mendapatkan hati rusa.

Kelebihan novel ini terletak pada keberanian Femmy menggubah, sehingga memberikan pembaca interpretasi baru dan cerita yang “rasional�. Juga alur cerita yang dipadu dengan beberapa penceritaan balik (
flash-back) cukup menarik, sehingga membuat pembaca tidak merasa monoton dan segera “tahu apa yang terjadi setelah ini�. Di bagian belakang, ia juga menyisipkan daftar referensi, baik buku maupun internet, yang makin menguatkan bahwa novelnya adalah penceritaan ulang dari “bahan yang sudah ada�.

Jika harus menyatakan kekurangan pada novel ini, itu terletak pada penjelasannya yang terkadang tidak sesuai konteks waktu. Misalnya, ia menjelaskan tentang ilmu telepati yang mungkin saja benar, tetapi agak mengganggu setting cerita (hal 23). Apakah istilah “telepati� pada jaman Sangkuriang sudah dikenal?

Lepas dari itu semua, memang penceritaan ulang seperti ini memerlukan keberanian untuk memodifikasi, bahkan menciptakan
twist. Dan Femmy telah berhasil dalam keduanya, sementara pembaca mendapatkan “cerita lama tetapi baru� dari novel ini.

Pertanyaan nakalnya adalah apakah kita juga berani lebih dari sekedar yang dilakukan Femmy, yakni mulai melakukan penceritaan ulang terhadap sejarah bangsa ini yang kini mulai berbilang versi, bukan lagi sekedar legenda atau dongeng menjelang tidur?

Selamat membaca!

(Baca juga komentar, resensi, dan proses kreatifnya di sini.)

4 Tanggapan to "Resensi Bahtiar HS tentang Panah Patah Sangkuriang"

Keren🙂
jadi pengin baca🙂

iwan95 said: Keren :)jadi pengin baca🙂

🙂 Kalo kesulitan cari bukunya, bilang aja ya. Di rumah masih ada beberapa. Boleh gratis, asal bikin review🙂🙂🙂

iwan95 said: Keren :)jadi pengin baca🙂

I dig this book! Beneran kalo yang ini saya sudah baca dan keren memang isinya. Dannnnn…. saya setuju dengan resensinya ini.

iwan95 said: Keren :)jadi pengin baca🙂

hehehe… thanks for the comment!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip

%d blogger menyukai ini: