Rak Buku Femmy

Cara menjadi penerjemah

Saya cukup sering menerima email yang menanyakan cara merintis karier sebagai penerjemah lepas (freelance translator), jadi saya pikir-pikir, mungkin ada manfaatnya kalau saran yang saya berikan kepada mereka ditayangkan juga di sini. Mohon dicatat, penjelasan di bawah ini hanya berlaku untuk penerjemah lepas bagi penerbit, alias penerjemah buku. Untuk penerjemah jenis lain, silakan lihat paragraf terakhir.

Nah, langkah pertama untuk menjadi penerjemah buku adalah mengirim lamaran ke berbagai penerbit, yang terdiri atas surat lamaran, CV, dan contoh terjemahan (disertai fotokopi naskah asli yang diterjemahkan). Lamaran bisa ditulis dalam Bahasa Indonesia saja, meskipun tidak dilarang juga kalau mau pakai bahasa sumber. Tidak masalah. Sebaiknya kita memilih penerbit yang menerbitkan buku-buku yang kita minati. Jangan melamar ke penerbit buku bisnis kalau kita tertarik menerjemahkan novel, misalnya.

Dalam surat lamaran, kita menyatakan keinginan untuk bekerja sama dengan penerbit sebagai penerjemah lepas. Sebagaimana surat lamaran lainnya, sebaiknya di sini kita menceritakan hal-hal yang menunjukkan bahwa kita memang mampu menerjemahkan (pengalaman menerjemahkan, pengalaman menulis, nilai TOEFL, kuliah sastra, kursus bahasa, pernah tinggal di luar negeri, pokoknya apa pun yang bisa menunjukkan kemampuan kita).

Sebagai tambahan, kita bisa juga menyebutkan minat dan kelebihan kita sebagai penerjemah. Kemampuan berbahasa asing lebih dari satu tentunya adalah nilai plus. Kita juga sebaiknya menyebutkan jenis buku apa yang kita minati dan bidang apa saja yang kita kuasai, bahkan hobi yang kita dalami. Dengan demikian, penerbit akan memilihkan buku yang sesuai dengan kemampuan kita.

Contoh terjemahan yang disertakan seyogyanya mencerminkan bidang yang kita minati. Pilih buku yang akan menonjolkan kemampuan terjemahan kita. Contoh terjemahan ini tidak perlu banyak-banyak, 5-10 halaman terjemahan juga cukup (A4, Times New Roman 12 pt, 2 spasi). Kalau kagok, ya boleh juga diteruskan sampai 1 bab. Tapi sebenarnya dari 5-10 halaman pun, kualitas seorang penerjemah sudah dapat dinilai.

Buatlah contoh terjemahan sebaik-baiknya sebab, meskipun surat lamaran dan CV bisa memberi gambaran umum tentang potensi kita, tetap saja bukti kemampuan itu terletak pada hasil terjemahan. Keterampilan kita inilah yang dibutuhkan penerbit, bukan gelar atau nilai TOEFL. Kalau sudah pernah ke luar negeri, tetapi hasil terjemahan belepotan, ya tetap saja kita tidak akan diterima sebagai penerjemah lepas. Sebaliknya, meskipun belajar bahasa secara otodidak, misalnya, asalkan hasil terjemahannya bagus, tentunya penerbit akan dengan senang hati memberikan order kepada kita.

Satu hal yang perlu diingat, biasanya penerbit sudah memiliki jaringan penerjemahnya masing-masing, terutama penerbit besar. Kalau mereka punya naskah baru, tentunya mereka akan mengorderkan naskah tersebut kepada jaringan mereka. Kalau mereka memiliki surplus naskah, barulah mereka mencoba para penerjemah baru. Jadi ya mungkin kita harus menunggu cukup lama juga untuk mendapatkan order terjemahan.

Untuk mengatasi hal ini, ada juga kiat lain. Kita bisa saja menawarkan buku kepada penerbit. Barangkali ada buku milik kita yang menurut kita bagus dan layak diterjemahkan, atau kita cari sendiri ke Internet. Nah, contoh terjemahan yang disertakan bisa diambil sekalian dari buku ini. Selain itu, kita juga harus menyertakan evaluasi kita terhadap buku tersebut, yang menguraikan mengapa buku ini layak diterjemahkan, apa saja keunggulannya, keunikannya, mengapa buku ini penting bagi pembaca di Indonesia. Nah, kalau si penerbit tertarik, dia yang akan menguruskan copyrightnya, dan kalau urusan itu beres, secara etika, dia akan mengorderkan terjemahannya kepada kita (tentu saja kalau kualitas terjemahan kita dianggap layak).

Untuk berkarier sebagai penerjemah, kita tidak memerlukan lisensi atau sertifikasi tertentu. Kalau mau, kita boleh saja menjadi penerjemah tersumpah, dengan cara mengikuti tes yang diadakan oleh Pusat Penerjemahan, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (Tlp: 021-31902112), khusus untuk yang ber-KTP Jakarta. Namun, status tersumpah ini sebenarnya lebih diperlukan untuk penerjemahan hal-hal yang berkaitan dengan hukum, untuk menjamin bahwa terjemahannya memang benar dan sesuai dengan asilnya, sehingga dokumen terjemahannya memiliki kekuatan hukum yang sama dengan teks aslinya.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah selain mencari pekerjaan, kita juga harus mempersiapkan diri menjadi penerjemah. Selain keterampilan kita sendiri, kita juga perlu alat bantu menerjemahkan. Minimal kita harus punya KBBI, kamus Inggris-Indonesia, dan kamus Inggris-Inggris. Selain itu, bergabunglah ke milis bahtera@yahoogroups.com, forum untuk penerjemah dari dan ke Bahasa Indonesia. Internet juga merupakan sumberdaya bagus untuk meriset istilah atau konsep asing yang kita temukan dalam terjemahan kita.

Selain melamar ke penerbit, kita juga bisa mencari order terjemahan ke tempat-tempat lain, seperti perusahaan, stasiun televisi, pengadilan, dan biro penerjemahan luar negeri. Menerima order terjemahan dari biro penerjemahan luar negeri sebenarnya lebih menguntungkan, karena tarifnya bisa 10-20 kali lipat daripada tarif penerbit lokal. Kalau mau menjajaki ini, cobalah kunjungi TranslatorsCafe dan ProZ. Di situ kita bisa memajang profil kita dan mencari jobs yang ditawarkan. Di TranslatorsCafe juga ada beberapa artikel tentang meniti karier dalam bidang penerjemahan.

53 Tanggapan ke "Cara menjadi penerjemah"

mba femmy, salam kenal.. My name is Nana. Saya lulusan B.Ing UNPAD. Dan saat ini saya menjadi pengajar B.Ing di SSC.
Saya baru saja mulai latihan menerjemahkan (katanya, the more u practice, the more you will master) sambil mencari lowongan penerjemah, karena yang saya baca dari iklan2 yang saya dapat di internet atau koran, persyaratannya melamar yaitu punya pengalaman 1 atau 2 tahun sebagai penerjemah. Bagaimana saya bisa melamar jadi penerjemah jika persyaratannya memiliki pengalaman?
Do u have any suggestion? Saya benar2 ingin jadi penerjemah yang handal. Oya, mba, software KBBI itu ada tidak ya?
maksudnya dijual gak? atau mba mungkin punya?
Thanks.

Salam kenal juga, Nana.

Saran saya sih, cuekin aja syaratnya, dan coba melamar. Pastikan contoh terjemahan yang disertakan benar-benar bagus, sehingga klien merasa berat menolak.

Saya tidak tahu juga terjemahan apa yang disukai Nana. Tapi, kalau senang menerjemahkan cerita, coba saja menerjemahkan cerpen dan kirimkan ke majalah atau koran.

Setahu saya, software KBBI tidak ada, jadi saya juga tidak punya :-)

Semoga sukses ya!

Nana suka menerjemahkan novel, Mba.
Kalau terjemahan cerpen bisa dikirim kemana ya, Mba?
Koran dan majalah ya? misalnya apa?
Hehehe, ternyata software KBBI gak ada ya. Berarti ya harus buka kamus secara manual, capek juga ya.
Terimakasih untuk sarannya…

assalamualaikum mbak…saya junaedi, lulusan mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya jurusan sastra arab. Saya menggeluti dunia penerjemahan. Namun saya juga ingin berkarir sebagai penerjemah di penerbit. Bagaimana caranya ya mbak? terima kasih

apakah bisa mengirimkan lamaran sebagai tenaga penerjemah via e-mail ke penerbit?

Nana, saya pernah membaca cerpen terjemahan di femina, jadi coba saja cari cerpen yang sesuai dengan karakter majalahnya. Saya kurang tahu juga soal media lain, tetapi mungkin saja mereka juga menerima terjemahan cerpen. Mungkin bisa ditanyakan langsung kepada redaksinya masing-masing.

Belum lama ini, KBBI sudah punya situs, yaitu di http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
Saya juga sangat terbantu dengan adanya situs ini, tidak perlu buka-buka kamus berat lagi! Semoga bermanfaat ya.

Junaedi, wa’alaikumsalam. Coba saja ikuti langkah-langkah yang saya tulis di atas. Kalau ada langkah yang kurang jelas, ditanyakan saja lagi dengan pertanyaan yang lebih spesifik.

Soal mengirim lamaran lewat email, coba saja ditanyakan langsung kepada penerbit yang bersangkutan, apakah boleh atau tidak.

Salam kenal, Mba Femmy..

Kenalkan, saya Stephen lulusan Kimia Univ.Sumatera Utara. Saya sangat menyukai bidang bahasa khususnya bahasa asing. Selama ini saya bekerja di perusahaan logistik sbg Marketing. Tapi saya benar2 tidak menikmati pekerjaan ini, jadi hanya cari uang dan status aja.
Stlh saya pikirkan sekian lama, dari minat saya yang senang belajar bahasa asing maka saya ingin sekali bergelut di dunia tranlator language sbg professional baik di penerbitan atau yg lain.Saya ingin fokus di penerjemahan buku science dan physicology.
Yang mau saya tanyakan, hal2 apa yang pertama sekali saya bisa lakukan untuk mulai terjun di profesi ini.Saya mohon saran2nya mba..

thanks a lot !

Stephen
Medan

kok anda sama dengan saya dalam karier ya? berangkat dari ketidakpuasan dalam kerja saat ini yg marketing ndak ada ujung pangkal. saya juga sekarang mau menjadi penterjemah.padahal saya adalah lulusan teknik tambang.salam kenal ya..

dody

Memang banyak penerjemah yang berasal dari latar berlakang nonbahasa, dan “tersesat” ke bidang penerjemahan ini, termasuk saya juga. Kalau tertarik membaca tentang pengalaman serupa penerjemah lain, ada bukunya lho. Judulnya Tersesat Membawa Nikmat, ditulis oleh anggota milis Bahtera. Informasinya bisa dilihat di sini.

Stephen, salam kenal juga ya. Profesi penerjemah memang cocok sekali buat orang-orang yang senang belajar bahasa seperti kita. Coba saja perdalam bahasa yang diminati, baik bahasa Indonesia sendiri maupun bahasa asing. Baca-baca buku teori penerjemahan.

Dan, yang paling penting, praktik menerjemahkan! Dalam kegiatan ini, praktik adalah guru terbaik. Jadi, segera saja kirim lamaran ke berbagai penerbit dan agen penerjemahan, supaya segera bisa mulai praktik. Semoga sukses ya!

thanks mba femmy…

Mbak…saya mau mengirim surat lamaran ke penerbit untuk menjadi translator, kira2 contoh terjemahan kita dan juga naskah asli apa harus dicopy semuanya?? setelah memasukkan ke penerbit, kira2 berapa lama bisa dapat panggilan?? syukron jazilan.

Iya, dikopi saja. Toh buat contoh terjemahan paling hanya 5-10 halaman, tidak banyak kan? Soal panggilan, saya tidak bisa memperkirakan, semuanya tergantung kesibukan editor dan ketersediaan naskah yang perlu diterjemahkan.

Mba Femmy, belajar nerjemahinnya dari siapa? otodidak? atau baca buku apa aja sebagai referensi bagi para penerjemah? O ya, dulu Mba kerja kantoran ya? Boleh tau, sebagai apa? Mba, sebaiknya untuk fresh graduate seperti saya kerja sebagai apa aja dulu untuk mendapatkan pengalaman kerja atau langsung jadi penerjemah? Masalahnya, saya belum memiliki pengalaman kerja. Ternyata, kalau mau jadi penerjemah, perlu pengorbanan dari segi materi ya, Mba. Misalnya membeli buku2 fiksi atau non fiksi. Kemudian harus rajin ke warnet untuk mencari referensi yg diperlukan dalam menerjemahkan suatu novel, buku, atau artikel. Perlu modal intinya. Jadi, saya perlu pekerjaan yang tetap untuk membiayai kebutuhan hidup.
Mohon sarannya, Mba.
Terimakasih..

Mba Femmy lagi sibuk yaa?
Message-ku belum dibales.. Mba, boleh tau emailnya?

Nana, sori baru balas sekarang. Bulan ini saya memang sibuk banget, dua kali keluar kota, dan karenanya harus bekerja ekstra untuk memenuhi tenggat. Email saya ada di halaman Tentangku.

Saya belajar menerjemahkan dari ibu saya, yang dulu bekerja sebagai editor di Penerbit ITB, dan sekarang berprofesi sebagai penerjemah juga. Membaca-baca buku referensi malah baru akhir-akhir ini saja, dan baru dua buah :-) Satunya Panduan untuk Penerjemah (kalau tidak salah) dari Rochayah Machali, dan satu lagi In Other Words dari Mona Baker (ini bagus banget).

Saya sempat bekerja lima tahun di Penerbit Mizan, sebagai editor dan rights coordinator. Jadi, ngga jauh-jauh deh :-) Saya kira ada baiknya kalau Nana bekerja dulu di kantor, lebih baik lagi kalau di bidang yang masih terkait. Selain menambah pengalaman, tentunya memperluas jaringan pertemanan juga. Sebagian order terjemahan saya diperoleh dari orang-orang yang mengenal teman-teman saya di Mizan. Lewat Mizan juga saya mengenal FLP, dan ada juga order terjemahan dari teman-teman FLP yang kemudian bekerja di penerbit.

Sebenarnya saya ingin bilang, menjadi penerjemah itu profesi yang enak dan tidak perlu modal banyak. Cukup keterampilan dan komputer dan dua-tiga kamus yang bagus, sudah bisa menjadi penerjemah. Tetapi, kalau ingin menjadi penerjemah yang benar-benar bagus, memang harus keluar modal lebih untuk riset.

Thank you very much for your suggestion..
It’s very useful for me.
Thanks for sharing it, Mba Femmy!

Salam kenal mbak Femmy, saya Putri, selama ini tertarik juga untuk jadi penerjemah lepas, tapi nggak tahu caranya. Makanya saya seneng banget nemu tulisan Mbak Femmy ini.
Mau tanya mbak, kalo masukkin lamaran ke penerbit itu sama nggak dengan lamaran ke perusahaan lain? maksudnya, selain contoh terjemahan kita, disertai ijazah dan transkrip nilai kita waktu kuliah juga nggak?
terus, saya kan sekarang sedang kerja di perusahaan konstruksi. itu perlu juga dijelaskan atau nggak?
Makasih ya mbak…

Salam kenal juga, Putri. Memasukkan lamaran penerjemahan ke penerbit memang mirip-mirip dengan lamaran ke perusahaan lain. Ijazah dan transkrip mungkin nggak terlalu perlu ya, kecuali kalau kuliahnya berkaitan dengan penerjemahan (sastra atau linguistik). Soal pekerjaan saat ini, boleh juga disebutkan sekilas.

Makasih mbak femmy.. Background saya arsitektur mbak, jadi nggak berkaitan ya? kecuali mungkin untuk menerjemahkan buku2 arsitektur…

Mbak Femmy, thanks abis… dan mungkin saya akan coba saran mbak, wish me luck..

ass…
maaf mb mau apa ada jasa penerjemahan melalui internet, kalau ada tolong kasih situsnya and kasih tahu cara menjadi penerjemah sekaligus syarat2nya, thanks before

wa’alaikumsalam,

di internet banyak kok biro penerjemahan. kunjungi proz.com, di sana ada direktorinya. coba aja datangi situs web biro-biro penerjemahan yang ada di sana, dan tanyakan langsung ke setiap biro persyaratannya. semoga berhasil ya.

Ass.
Mba Femmy, alhamdulillah sekarang saya bekerja sebagai penerjemah. Lebih banyak menerjemahkan teks-teks bidang IT. Permulaan yang bagus. Mudah2an suatu saat nanti saya bisa menerjemahkan novel-novel bahasa Inggris (amien..) Terimakasih untuk saran dan nasihatnya..
Wass.

Wa’alaikumsalam, Nana. Alhamdulillah! Saya ikut senang. Ya, selangkah demi selangkah, semoga tujuan akhir menerjemahkan novel bisa tercapai. Amin…

assalamu alaikum.
salam kenal mbak,nama saya murni,senang bisa melihat tulisan mbak,jadi banyak masukan.
thanks ya mbak.

wa’alaikumsalam, murni. salam kenal juga. semoga bermanfaat ya.

Ass, Mbak Femi
Pertama – tama terima kasih buat artikel nya. Sangat memberi inspirasi dan semangat.
Saya jadi kepengen menerjuni dunia penerjemahan. Saya belum pernah menerjemah untuk kebutuhan komersil. Tadinya saya hanya membantu teman – teman itupun hanya sedikit. Tapi saya janji akan terus belajar….
Saya mau tanya, mbak femi, untuk artikel yang akan kita kirim ke penerbit itu artikel seperti apa? saya penginnya jadi penerjemah buku fiksi atau novel, tapi saya tidak punya referensi buku – buku berbahasa inggris. Jadi kalau artikelnya kita dapat dari internet, seperti dari Wikipedia misalnya, gimana mbak?
Selanjutnya, latar belakang pendidikan saya adalah Teknik Elektronika. Pendidikan Bahasa Inggris hanya saya dapat dari kursus dan bimbingan belajar. Bagaimana peluang saya, ya mbak?
Sekali lagi terima kasih, mbak femi

Citra, contoh terjemahan untuk penerbit boleh apa saja, artikel wikipedia pun boleh, tetapi sebaiknya sesuai dengan keinginan kita ingin menerjemahkan buku apa. Contoh terjemahan bisa diambil dari novel apa saja kok, yang sudah terbit terjemahannya pun nggak apa-apa. Novel hanya harus dipilih kalau kita ingin menawarkannya ke penerbit.

Latar belakang nggak masalah kok. Saya sendiri dulu kuliah teknik kimia, dan tak pernah belajar bahasa Inggris di luar sekolah biasa. Saya banyak belajar dari membaca buku dan menonton film, dan ini menurut saya adalah cara yang bagus untuk meningkatkan kemampuan bahasa kita. Jadi, peluang tetap terbuka bagi siapa saja yang mampu.

ass, mbak femi, citra lagi ini
cuman mau bilang, makasih buanyak buat saran – saran nya
kata – kata mbak femi itu selalu bikin ayem, ya
Ku jadi semakin semangat aja

halo mbak femmy..
mw nanya nih, sampel terjemahan yang dikirim buat lamaran penerjemah tuh dari mana? boleh asal comot dari artikel di web? bgmn dgn copyrightnya? terima kasih

halo, michael. kalau buat sampel sih, ngga masalah diambil dari mana pun. toh bukan untuk tujuan diterbitkan dan dikomersialkan.

assalam, salam kenal mba femy
tulisannya bagus banget, so inspiring..
mba, saya mau minta pendapatnya boleh kan? dari mulai kuliah dulu saya sudah usaha menerjemah kecil2an, sekarang saat bekerja saya diminta membantu menerjemahkan bahan dan tugas kuliah atasan yang mengambil program doktornya, sudah dua semester dijalani, pada awalnya saya anggap ini sebagai ajang latihan dan saya senang mengerjakan terjemahan semacam ini, tapi lama kelamaan saya merasa seperti “dikerjai” oleh beliau, tidak ada penghargaan darinya, dan saya terpaksa harus terus menjalani tugas ini karena beliau atasan saya, what should I do mbak femmy??

Mbak femmy,,salam kenal yah…
Mbak mw nanya ni,,kL seumpama aku mw nerjemahin cerpen truz dkirim ke majalah,,msalah copyright ny gmna y?
Blz y mBak,,thx b4,

Dian, salam kenal juga. Setahuku, masalah copyright cerpen diurus oleh pihak majalahnya. Jadi, kirimkan saja terjemahan cerpen itu ke majalah. Semoga berhasil ya.

aslm mba femmy..sng bgt bsa knal mba..
aq ziyah,aq niy bru lulus sma & aq kul inggris..
dri kcil aq gk prnah trpikir tuk jdi seorg pnerjemah,
tpi sprtinya skrg aq mu cba bljar tuk itu,
ap aq gk tlat ya klo bru mu bljar??
mhon masukannya mba..

mksih sblumnya…

wa’alaikumsalam, ziyah.
sepertinya jarang ada orang yang bercita-cita menjadi penerjemah sejak kecil :-) Ziyah sekarang sedang kuliah Inggris, tentunya nanti ada mata kuliah Penerjemahan, kan? Jadi Ziyah sudah berada di jalur yang benar, dan belum telat untuk belajar. Pokoknya, dicoba saja dulu, siapa tahu Ziyah menyukainya. Saya sendiri mulai menekuni bidang ini selagi kuliah, dan langsung jatuh cinta pada pekerjaan ini, sehingga dilanjutkan setelah kuliah. Semoga sukses ya.

owh gtu y mba…
mkasih y mba masukannya…
iy insyaallah zia mu blajar lbih giat tuk it…

se-x lagi mksih y mba…
sukses jga buat mba…
amiiinn….

halo mbak, salam kenal, saya adalah mahasiswa semester 9 jurusan akuntansi. sebenarnya saya lebih tertarik bekerja di bidang linguistik daripada akuntansi. kira2 langkah apa yang perlu saya ambil agar nantinya bisa berkarir sebagai editor atau penerjemah? (diutamakan editor). saya takut tidak ada penerbit atau publikasi lainnya yang mau menerima orang dengan pengalaman nol seperti saya.

terima kasih banyak ya, mbak :)

halo, aditya. salam kenal juga. kalau aditya berminat menjadi editor, mungkin karier bisa dirintis dari sekarang, dengan melibatkan diri menjadi editor, misalnya di majalah kampus atau buletin rumah ibadah. bisa juga aditya mengirim tulisan kepada media, baik media kampus, lokal, atau nasional. pengalaman ini bisa dijadikan bekal untuk melamar ke penerbit nanti. selain itu, kuliah di bidang akuntansi pun bisa menjadi nilai plus, sekiranya aditya melamar ke majalah bisnis atau penerbit buku ekonomi dan semacamnya.

itu kalau jadi editor ya. kalau untuk menjadi penerjemah, itu lebih mudah, bisa mulai melamar ke penerbit dari sekarang. saya juga dulu mulai merintis karier semasa kuliah kok, bahkan dari tingkat dua. jadi, setelah lulus, bisa langsung terjun ke bidang ini sepenuhnya.

mbak Femmy,

salam kenal.

tulisannya bener2 bikin saya semangat mencoba jadi penerjemah.
mbak ada yang saya ingin tanyakan, untuk pengerjaan misalnya satu buah novel bahasa inggris -/+ 250 halaman ke dalam bahasa indonesia biasanya berapa lama ya?

makasih ya mbak

salam kenal juga, mia. lama proses penerjemahan tergantung pada jadwal kita juga. dulu saya bisa menyelesaikan satu novel standar dalam sebulan, tapi setelah berumah tangga, waktunya bisa molor sampai 2-3 bulan, karena banyak kesibukan lain. semoga membantu, ya.

Mbak Femmy, apakah kita bisa belajar gaya terjemahan suatu penerbit tertentu melalui buku-buku terbitannya? Misalnya, kita mempelajari buku-buku yang sudah diterbitkan (dengan genre yang sama tentunya).

Thx

Mery, ya, saya kira bisa dipelajari dengan cara itu.

Oh, gitu yah…
Nanya lagi ya mbak, trus contoh seperti apa sih yang sebaiknya kita kirim ke penerbit? misalnya saya tertarik dengan fiksi, khususnya pop lit. tapi kan katanya contoh sebaiknya dipilih yang menonjolkan kemampuan kita. brati gaya bahasa novel2 sastra yang njlimet itu dong? (kemarin ngliat novel atonement-nya ian mcewan dan catcher in the rye-nya JD Salinger yang bikin klenger) hehe. nah, sebaiknya milih contoh yang mana ya mbak?

thx

Merry, menurut saya, terjemahkan saja genre yang disukai. Menerjemahkan pop lit belum tentu lebih mudah daripada menerjemahkan novel sastra lho. Pop lit tentunya harus diterjemahkan dengan bahasa yang luwes dan alami, apalagi yang banyak mengandung dialog. Selain itu, nuansa juga harus dipertahankan. Misalnya, kalau aslinya kocak, terjemahannya harus kocak juga.

oh iya, mbak Femmy membuka jasa pengomentaran hasil terjemahan nggak? hehe (ngarep mode on).

Sejau ini sih belum buka :-p

Hmm… saya setuju mbak Femmy. saya sedang nyoba nerjemahin novel pop yang penuh dengan idiom (jadinya harus buka-buka kamus terus). gak kebayang deh gimana susahnya kalau harus nerjemahin novel lucu yang banyak pun-nya. :-)

saya sebenarnya nggak menganggap poplit lebih gampang diterjemahkan daripada hi-lit (mohon maaf kalau di pesan sebelumnya saya terkesan meremehkan poplit). tapi saya lebih suka baca poplit, jadi menerjemahkannya pun terasa lebih menyenangkan daripada menerjemahkan hi-lit. (saya nyoba nerjemahin catcher in the rye dan hanya sanggup satu paragraf sebelum nyerah). :-D

kesimpulannya, semakin informal gaya bahasa novel (apalagi yang komedi), nerjemahinnya jadi semakin susah (g ada hubungannya hi-lit ato poplit.)

makasih mbak atas sarannya.

Tapi, bahasa yang sangat formal pun ada tantangannya sendiri, seperti misalnya novel-novel Jane Austen, atau Jonathan Strange and Mr Norrell yang baru kuterjemahkan. Pusing deh.

Kalau kita melihat dari sudut lain, terjemahan non-novel pun ada tantangannya sendiri. Bahasanya mungkin lebih lugas, tapi biasanya yang paling sulit adalah menerjemahkan peristilahannya.

Jadi, kesimpulannya, semua jenis terjemahan ada tantangannya masing-masing. Tinggal kita harus pandai-pandai menilai kemampuan dan selera sendiri, lalu menentukan jenis terjemahan mana yang paling cocok dengan kita.

Halo, Mbak Femmy salam kenal

saya tertarik di bidang penerjemahan sejak saya masih kuliah (2003), dan saya sempat menerjemahkan novel fiksi bahasa inggris saat itu buat iseng aja. Tapi sekarang saya berkeinginan menjadikan bidang penerjemahan novel sebagai profesi. Tapi setelah melihat syarat2nya pake TOEFL segala kok jadi ragu2 ya, lagipula saya lulusan perikanan dan saya belajar menerjemahkan secara otodidak.

Yang ingin saya tanyakan, mengirimkan hasil terjemahan saya kepada penerbit apa ya? (saya tertarik di bidang penerjemahan novel fiksi) dan tenggat waktunya biasanya berapa lama? (dulu saya menerjemahkan satu novel memakan waktu 3-4 bulan)

Mohon sarannya, Terima kasih

Untuk menjadi penerjemah, tidak wajib punya nilai TOEFL kok. Nilai TOEFL yang baik tidak menjamin orangnya bisa menjadi penerjemah yang baik. Nilai TOEFL hanya salah satu alat untuk melamar saja, tetapi seperti yang saya sebutkan, yang paling penting adalah hasil terjemahan itu sendiri.

Bidang studi yang dipelajari serta cara belajar menerjemahkan pun tidak penting. Saya sendiri lulusan teknik kimia, bukan sastra atau bahasa. Saya juga belajar menerjemahkan sendiri.

Kalau trips tertarik menerjemahkan novel fiksi, kirimkan hasil terjemahan kepada penerbit yang menerbitkan novel terjemahan. Banyak kan? Tinggal survei di toko buku.

Tenggat juga bervariasi, ada yang ketat, ada yang longgar. Coba tanyakan langsung ke penerbit yang bersangkutan.

Tinggalkan Balasan