Rak Buku Femmy

Archive for the ‘Resensi buku’ Category

Gadis KretekKalau berbicara soal rokok kretek, aku selalu teringat pada cerita ayahku tentang pengalamannya yang unik tentang rokok ini. Waktu itu dia sedang di Amerika, duduk-duduk di sebuah kafe atau klub jaz, menikmati sebatang kretek. Lalu, tahu-tahu seorang bule menghampiri dan berlutut di sampingnya, melebarkan tangan seolah memohon. Orang bule itu bertanya, “Apakah Anda dari Indonesia? Apakah itu rokok kretek?” Rupanya demikianlah enaknya kretek Indonesia.

Itulah gambaran tentang kretek yang tersimpan di benakku saat aku pertama melihat novel ini, yang kemudian kubeli karena masuk 5 besar Khatulistiwa Literary Award 2012. Dan ternyata, tidak mengecewakan. Ada banyak sekali unsur yang kusukai dalam novel ini.

Cerita ini memuat berbagai detail tentang rokok kretek yang dikisahkan dari sudut pandang orang-orang yang berkecimpung di bidang itu, sehingga membuatku, yang tidak pernah merokok, merasa seperti memasuki dunia baru dan ikut menyelami perasaan orang yang menyukai kretek. Perkembangan kretek ini juga ditautkan secara apik dengan sejarah Indonesia, mulai dari zaman Belanda, Jepang, kemerdekaan, PKI, hingga masa kini. Inilah jenis novel sejarah yang kusukai. Unsur sejarah dan informasi dianyamkan ke dalam cerita dengan mulus, tidak membosankan.

Aku juga selalu suka membaca tentang tokoh seperti Idroes Moeria, yang berjuang untuk meraih sukses dalam bidang yang disukainya. Impiannya, rencananya yang disusun rapi, kemauannya merintis dari bawah, kerja kerasnya, upayanya untuk terus berinovasi.

Hubungan antara tokohnya pun menarik untuk dibaca. Senang rasanya membaca hubungan suami-istri yang mewujudkan cintanya dengan saling membela pasangan. Menyenangkan pula membaca hubungan ayah-anak seperti Idroes dan Dasiyah yang penuh kasih sayang.

Dari segi alur, cerita ini juga membuatku sedikit penasaran tentang Jeng Yah. Mula-mula penasaran kapan tokoh ini muncul, lalu penasaran soal apa yang terjadi antara Jeng Yah dan Soeraja. Kemudian, menurutku akhir ceritanya pun pas. Penyelesaian yang layak untuk konflik yang disajikan.

Aku senang bisa menemukan satu lagi penulis Indonesia yang kusukai. Kapan-kapan aku akan membaca karyanya yang lain.

Di antara empat belas novel karya Chin Yung, sebagian besar sudah pernah kutonton serial televisinya semasa SD, atau kubaca bukunya semasa SMP-SMA, atau keduanya. Putri Harum dan Kaisar ini termasuk salah satu dari tiga yang sampai saat ini belum pernah kubaca atau kutonton. Senang juga bisa membaca sesuatu yang “baru” dari Chin Yung.

Putri Harum dan Kaisar bercerita tentang Hong-hwa-hwe (Perkumpulan Bunga Merah), yang bertujuan menggulingkan dinasti Ceng yang berkuasa pada masa itu dan mengembalikan kejayaan bangsa Han.

Alur

Ada tiga alur cerita besar yang berjalin dalam cerita ini. Alur pertama berkaitan dengan Bun Thay Lay, anggota Hong-hwa-hwe yang ditangkap oleh tentara Ceng, dan upaya rekan-rekan perkumpulan membebaskannya. Alur ini serta beberapa subalurnya menghabiskan hampir setengah cerita. Sayangnya, aku tidak terlalu menyukainya karena hampir tidak ada gregetnya. Tidak ada budi-dendam yang berurat berakar, tak ada kisah cinta yang mengharu-biru. Hanya rencana pembebasan yang bolak-balik disusun dan gagal, membuatku agak bosan membacanya.

Alur kedua adalah keterlibatan Hong-hwa-hwe dengan suku Uighur. Suku ini muncul agak awal dalam cerita, saat berupaya merebut kembali Al-Qur’an pusaka milik suku itu yang dicuri oleh tentara Ceng. Hong-hwa-hwe membantu mereka sehingga terjalin persahabatan di antara dua kelompok ini. Di bagian cerita lebih belakang, Hong-hwa-hwe datang ke wilayah Uighur dan membantu mereka menghadapi serangan pasukan Ceng.

Alur ketiga adalah misteri seputar jati diri Raja Kian Long, yang sebenarnya mengaitkan semua alur lain. Gara-gara jati diri inilah Bun Thay Lay ditangkap oleh tentara Ceng. Demi mencari bukti tentang ini juga, Hong-hwa-hwe pergi ke wilayah Uighur, kemudian ke Siao-lim-si. Dengan memanfaatkan ini pula, Hong-hwa-hwe berani menembus istana raja dan menemui dengan Kian Long untuk menentukan masa depan negara.

Tokoh

Tidak seperti kebanyakan cerita silat yang menyorot satu orang jagoan, cerita ini lebih berkisah tentang perkumpulan Hong-hwa-hwe. Perkumpulan ini dipimpin oleh empat belas orang, yang kegiatannya masing-masing selalu disampaikan kepada pembaca, baik yang terlibat langsung dalam kegiatan yang sedang dituturkan dalam cerita, maupun yang sedang diberi tugas atau beristirahat di tempat lain. Namun, di antara keempat belas orang ini, tentu saja ada tiga tokoh yang mendapat porsi cerita lebih besar, termasuk kisah asmara.

Tokoh yang pertama tentu saja adalah Tan Keh Lok, sang ketua perkumpulan. Dalam alur cerita pertama, kegiatannya hanya sesekali bertempur dan membagi-bagi tugas kepada kawan-kawannya. Untunglah setelah alur itu selesai, dia diberi kesempatan bertualang sedikit. Bertemu gadis cantik, melawan musuh berat, melatih ilmu baru, membongkar rahasia masa lalunya sendiri, menghadapi dilema antara dua gadis, antara kepentingan pribadi dan negara. Sip lah.

Tokoh kedua adalah Ji Thian Hong, ahli strategi dalam perkumpulan ini. Dialah yang menyusun rencana saat Hong-hwa-hwe perlu melakukan kegiatan apa pun. Kisah asmaranya cukup romantis, dari benci jadi cinta. Sayangnya, cerita pribadinya terlalu singkat.

Tokoh ketiga adalah Ie Hi Tong, yang menurutku memiliki cerita yang paling menarik. Mulai dari kasihnya yang tak sampai, cedera saat ingin menebus dosa, bertemu dengan musuh berat sehingga dia harus mengerahkan daya-upaya untuk menyelamatkan nyawa, sampai menghadapi gadis dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

Tulisan ini tentu belum lengkap tanpa menyebut sang Putri Harum. Dia putri kepala suku Uighur, yang kemudian menjadi unsur penting dalam pembicaraan Tan Keh Lok dan Kian Long dalam menentukan nasib negara Tiongkok.

Sudah lama aku ingin terjun kembali membaca cerita silat, merenangi lagi sungai-telaga, apa lagi setelah suami membawa koleksinya ke rumah. Tapi, aku merasa “wajib” menghabiskan dulu daftar dosaku yang panjang itu sebelum merambah ke sana, jadi keinginanku ini tak kunjung kulaksanakan.

Nah, akhir pekan lalu ada undangan dari Om Tjan ID (penerjemah tjersil) yang menikahkan anaknya di Semarang. Maka kami Ban-liong-siang-koay pun berangkat ke sana untuk turut merayakan kegembiraan, sambil tak lupa menggunakan kesempatan ini untuk berkumpul dengan kawan-kawan sesama penggemar tjersil, utamanya di Integrita, kantor penerbit Patja Satya. Melihat semua buku yang berjajar di rak, rasanya ingin sekali membaca semuanya sekaligus. Suami menawarkan membeli beberapa, tetapi teringat tumpukan buku belum dibaca di rumah, aku menolak. Namun, ternyata Om Tjan memberikan buku terjemahannya yang terbaru sebagai cendera mata khusus bagi anggota MTjersil. Jadi, kami tidak pulang dengan tangan hampa.

Senyuman Dewa Pedang (劍神一笑 – Kiam-sian-it-siauw) karya Khu Lung adalah buku kesepuluh dalam seri Liok Siau-hong. Dulu aku pernah nonton serial televisinya, tetapi ceritanya sudah lupa semua, dan entah apakah buku ini dimasukkan ke serialnya.

Dalam jilid ini, Liok Siau-hong menyelidiki hilangnya sahabatnya Liu Ji-kong, dan datang ke sebuah desa sepi yang terpencil bernama Ui-sik, tempat “bunga tak harum, burung tak berkicau, ayam tak berkeliaran, anjing tak berlarian dan kelinci pun tak bisa buang air.” Warga desa itu juga aneh-aneh. Misteri pembunuhan yang lumayan bikin penasaran. Dalam cerita ini juga kita bertemu kembali dengan si Kuah Daging, Sukong Ti-sing, Lausit Hwesio, dan Sebun Jui-soat.

Yah… lumayan sebagai buku tjersil pertama yang kubaca setelah sekian lama. Hanya 228 halaman, ringan dan kadang lucu. Lanjut ke buku berikutnyaaa….

Ini cerita silat kedua yang kubaca tahun 2008. Aku ingin membaca semua karya Chin Yung yang belum pernah kubaca atau kutonton, dan kebetulan buku inilah yang pertama kutemukan di rak koleksi tjersil suamiku.

Soh Sim Kiam (Pedang Hati Suci, diterjemahkan Gan KL dari 連城訣) berkisah tentang Tik Hun, seorang pemuda desa yang hidup tenang bersama gurunya, Jik Tiang-hoat, dan putri gurunya, Jik Hong. Pada awal cerita mereka diundang untuk menghadiri perayaan ulang tahun kakak seperguruan Jik Tiang-hoat, dan di sanalah semua permasalahan dimulai.

Novel ini tidak terlalu panjang, hanya 11 jilid dengan total 532 halaman, dan karenanya tidak banyak petualangan yang dialami Tik Hun. Hanya ada dua konflik besar di dalam cerita ini yang, tidak seperti plot rumit dalam trilogi Chin Yung, nyaris tidak berhubungan satu sama lain, setiap konflik punya tokoh jahat dan tokoh wanitanya masing-masing. Hampir terasa seperti membaca dua cerita. Aneh.

Sampul Soh Sim Kiam

Soh-sim-kiam
Konflik pertama terkait dengan judul buku ini, nama sebuah ilmu pedang yang diperebutkan oleh Jik Tiang-hoat dan kedua saudara seperguruannya. Ilmu ini unik karena nama-nama jurusnya didasarkan pada baris-baris puisi. Sayangnya, aku tak tahu apa-apa tentang puisi Cina. Andaikan tahu, tentunya lebih bisa menikmati. Di antara semua puisi yang disebut, hanya satu yang kukenal karena di milis tjersil pernah dibicarakan, termasuk oleh suami.

夜思.(李白)
床前明月光
疑是地上霜
舉頭望明月
低頭思故鄉

Rindu d’Hening Malam (Li Bai)
Cahaya rembulan depan pagar perigi
Sudahkah embun beku, menutupi bumi
Dongakkan kepala, rupanya terang bulan
Waktu menunduk, terkenang kampung halaman

Selain ilmu pedang, ternyata Soh-sim-kiam juga menyimpan suatu rahasia lain, sehingga orang lain di dunia persilatan turut mengincar kitab silat tersebut, beserta kunci teorinya.

Hiat-to-bun
Konflik kedua adalah keterlibatan Tik Hun dengan Hiat-to-bun (Perkumpulan Golok Berdarah) yang jahat, yang menimbulkan kesalahpahaman sehingga para pesilat menyangkanya orang jahat juga.

Aku membaca bagian ini dengan dua perasaan bercampur. Pertama, sebal karena situasinya sedemikian rupa sehingga Tik Hun tak mampu berbuat apa-apa untuk menyangkal tuduhan ataupun meluruskan kesalahpahaman. Kedua, sedikit kagum karena aku teringat pada cersil karangan sendiri yang memiliki konflik serupa (tokoh utamanya disangka jahat), tetapi kesalahpahaman kubuat tidak sehebat yang disusun Chin Yung, hehe.

Kesan
Secara keseluruhan, buku ini lumayan juga, ada bagian yang hambar, tetapi ada juga bagian yang menarik..

Dari sisi ilmu silat, agak menyebalkan bahwa selama setengah cerita ilmu Tik Hun tidak berkembang, bahkan sampai harus menuruti orang jahat untuk bertahan hidup. Saat dia sudah lebih lihai pun, ilmunya tidak terlalu dimanfaatkan dengan seru, huh-huh.

Dari sisi cerita, dalam paruh novel pertama, satu-satunya bagian yang kusuka hanyalah cerita Ting Tian tentang kisah cintanya dengan Leng Siocia. Sangat menyentuh bahwa pada bulan-bulan pertama mereka hanya berinteraksi melalui bunga yang ditaruh Leng Siocia di balkon.

Di tengah-tengah cerita, di jurang bersalju saat tinggal empat orang yang tersisa (Tik Hun, Hiat-to Lo-co, Hoa Tiat-kan, dan Cui Sing) dan tidak bisa ditebak bagaimana keadaan akan bergulir, barulah cerita terasa seru, dan terus berlanjut sampai akhir buku, yang membuatku terjaga sampai jam dua malam untuk menamatkannya.

Buku ini adalah buku kedua yang kuterjemahkan untuk redaksi fiksi Gramedia (yang pertama adalah Stardust). Mulanya aku agak ragu menerima tugas ini, karena sepertinya bahasanya agak “nyastra” dan saat itu (April 2006) aku belum pernah menerjemahkan novel serius selain To Kill A Mockingbird. Tapi pikirku, masa baru order kedua sudah tawar-tawar? Jadi, kuterima juga tugas ini.

Ternyata, menerjemahkan buku ini sangat menyenangkan. Memang agak menantang karena beberapa kalimatnya puitis, tapi mencari padanan kata yang pas juga terasa mengasyikkan. Mudah-mudahan saja hasilnya juga cukup bagus dan bisa dinikmati pembaca.

Tantangan lain adalah kata berbahasa daerah yang bertaburan, yang mengharuskan aku banyak melakukan riset di internet. Sebenarnya, semua kata ini telah diselipkan secara piawai sehingga bisa dikira-kira maknanya dari konteks dan tak memerlukan catatan kaki. Namun, sebagai penerjemah, tentu saja aku tak boleh hanya mengandalkan tebak-tebakan, harus tahu persis makna setiap kata. Riset ini pun menjadi kenikmatan tersendiri, karena memungkinkan aku menjelajah sebentar ke Bombay dan mengintip kebudayaan Parsi. Pada akhir pengerjaan, semua kata ini kurangkum dalam tabel dan kukirimkan ke penulisnya, yang dengan sangat baik hati memeriksanya dan mengoreksinya.

Selain hal teknis di atas, ceritanya juga bagus! Buku ini berkisah tentang dua perempuan yang terpisah jarak status sosial. Bhima adalah pembantu di rumah Sera, dan konflik besarnya adalah cucu Bhima yang hamil di luar nikah, dan upaya mereka berdua untuk membantu gadis itu menghadapi masalah ini. Namun, di sela-sela cerita masa kini, banyak juga kisah sendu masa lalu kedua perempuan tersebut, terutama tentang hubungan mereka dengan suami dan keluarga masing-masing.

Hubungan majikan-pembantu yang tergambar di sini mungkin tampak aneh dan agak kejam bagi masyarakat Barat, tapi sepertinya beberapa aspeknya juga muncul di masyarakat kita. (Jadi ingat Nagabonar Jadi 2, adegan ketika Nagabonar mengajak kedua pembantu anaknya makan bersama-sama, dan kelihatan mereka berdua tampak sangat canggung.)

Kesimpulannya, ini buku bagus! Kisah yang menyentuh, dan kadang membuatku merenung. Ayo baca, bacaaa…

Berikut sedikit cuplikan dari buku tersebut:
Baca entri selengkapnya »


Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 732 pengikut lainnya.