Rak Buku Femmy

Soh Sim Kiam – Jin Yong

Posted on: 19 April 2008

Ini cerita silat kedua yang kubaca tahun 2008. Aku ingin membaca semua karya Chin Yung yang belum pernah kubaca atau kutonton, dan kebetulan buku inilah yang pertama kutemukan di rak koleksi tjersil suamiku.

Soh Sim Kiam (Pedang Hati Suci, diterjemahkan Gan KL dari 連城訣) berkisah tentang Tik Hun, seorang pemuda desa yang hidup tenang bersama gurunya, Jik Tiang-hoat, dan putri gurunya, Jik Hong. Pada awal cerita mereka diundang untuk menghadiri perayaan ulang tahun kakak seperguruan Jik Tiang-hoat, dan di sanalah semua permasalahan dimulai.

Novel ini tidak terlalu panjang, hanya 11 jilid dengan total 532 halaman, dan karenanya tidak banyak petualangan yang dialami Tik Hun. Hanya ada dua konflik besar di dalam cerita ini yang, tidak seperti plot rumit dalam trilogi Chin Yung, nyaris tidak berhubungan satu sama lain, setiap konflik punya tokoh jahat dan tokoh wanitanya masing-masing. Hampir terasa seperti membaca dua cerita. Aneh.

Sampul Soh Sim Kiam

Soh-sim-kiam
Konflik pertama terkait dengan judul buku ini, nama sebuah ilmu pedang yang diperebutkan oleh Jik Tiang-hoat dan kedua saudara seperguruannya. Ilmu ini unik karena nama-nama jurusnya didasarkan pada baris-baris puisi. Sayangnya, aku tak tahu apa-apa tentang puisi Cina. Andaikan tahu, tentunya lebih bisa menikmati. Di antara semua puisi yang disebut, hanya satu yang kukenal karena di milis tjersil pernah dibicarakan, termasuk oleh suami.

夜思.(李白)
床前明月光
疑是地上霜
舉頭望明月
低頭思故鄉

Rindu d’Hening Malam (Li Bai)
Cahaya rembulan depan pagar perigi
Sudahkah embun beku, menutupi bumi
Dongakkan kepala, rupanya terang bulan
Waktu menunduk, terkenang kampung halaman

Selain ilmu pedang, ternyata Soh-sim-kiam juga menyimpan suatu rahasia lain, sehingga orang lain di dunia persilatan turut mengincar kitab silat tersebut, beserta kunci teorinya.

Hiat-to-bun
Konflik kedua adalah keterlibatan Tik Hun dengan Hiat-to-bun (Perkumpulan Golok Berdarah) yang jahat, yang menimbulkan kesalahpahaman sehingga para pesilat menyangkanya orang jahat juga.

Aku membaca bagian ini dengan dua perasaan bercampur. Pertama, sebal karena situasinya sedemikian rupa sehingga Tik Hun tak mampu berbuat apa-apa untuk menyangkal tuduhan ataupun meluruskan kesalahpahaman. Kedua, sedikit kagum karena aku teringat pada cersil karangan sendiri yang memiliki konflik serupa (tokoh utamanya disangka jahat), tetapi kesalahpahaman kubuat tidak sehebat yang disusun Chin Yung, hehe.

Kesan
Secara keseluruhan, buku ini lumayan juga, ada bagian yang hambar, tetapi ada juga bagian yang menarik..

Dari sisi ilmu silat, agak menyebalkan bahwa selama setengah cerita ilmu Tik Hun tidak berkembang, bahkan sampai harus menuruti orang jahat untuk bertahan hidup. Saat dia sudah lebih lihai pun, ilmunya tidak terlalu dimanfaatkan dengan seru, huh-huh.

Dari sisi cerita, dalam paruh novel pertama, satu-satunya bagian yang kusuka hanyalah cerita Ting Tian tentang kisah cintanya dengan Leng Siocia. Sangat menyentuh bahwa pada bulan-bulan pertama mereka hanya berinteraksi melalui bunga yang ditaruh Leng Siocia di balkon.

Di tengah-tengah cerita, di jurang bersalju saat tinggal empat orang yang tersisa (Tik Hun, Hiat-to Lo-co, Hoa Tiat-kan, dan Cui Sing) dan tidak bisa ditebak bagaimana keadaan akan bergulir, barulah cerita terasa seru, dan terus berlanjut sampai akhir buku, yang membuatku terjaga sampai jam dua malam untuk menamatkannya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Komentar terbaru

There are no public comments available to display.

Arsip

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 724 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: